MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, kembali mengajak warga untuk memanfaatkan lahan sempit di perkotaan sebagai lahan pertanian.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ajakan ini ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tingkat RT/RW hingga pegawai pemerintah, guna mendukung ketahanan pangan nasional dan sektor pertanian, mengingat keterbatasan lahan yang ada.

Pernyataan tersebut disampaikan Munafri pada acara pembukaan Musyawarah Tani Abbulo Sibatang di Kelompok Tani Manyikkoaya, Jalan Arung Teko (belakang Gudang PPLP) Makassar, pada Kamis (14/8).

Dalam sambutannya, Munafri mengapresiasi kegiatan tersebut dan menekankan bahwa meskipun Makassar merupakan kawasan perkotaan, siklus pertanian harus tetap terjaga.

“Makassar adalah daerah dengan pertumbuhan penduduk yang pesat. Akibatnya, banyak lahan pertanian yang terpaksa dikorbankan demi pembangunan,” ujar Munafri.

Ia juga mengungkapkan bahwa kebutuhan beras di Makassar semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk, yang kini mencapai 1,4 juta jiwa.

Setiap bulan, kebutuhan beras di kota ini sekitar 10–11 ton, sementara lahan pertanian yang tersisa hanya sekitar 1.300–1.400 hektare.

“Ini adalah tantangan besar yang harus dihadapi,” tambahnya.

Untuk itu, Munafri mendorong kolaborasi antara petani, perguruan tinggi, dan Kementerian Pertanian dalam mengoptimalkan teknologi pertanian.

Dengan terbatasnya lahan, teknologi harus dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kapasitas produksi.

“Saya berharap Fakultas Pertanian dan para guru besar di bidang pertanian terus memberikan bimbingan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dominasi metode pertanian konvensional di kalangan petani dan mengingatkan pentingnya peran generasi muda, terutama di Kecamatan Biringkanaya, untuk mengadopsi teknologi pertanian dan digitalisasi.

Menindaklanjuti program swasembada pangan nasional yang menjadi salah satu cita-cita Presiden RI, Munafri mengatakan Kementerian Pertanian terus berupaya untuk mencetak lahan sawah baru guna mengurangi ketergantungan pada impor beras.

“Saya harap para petani terus belajar dan meningkatkan kapasitas produksi. Setiap inci lahan harus dimanfaatkan untuk beras, sebagai kebutuhan pokok kita,” tegasnya.

Munafri menambahkan bahwa Pemkot Makassar juga menjadikan urban farming sebagai program unggulan, dengan mendorong pemanfaatan lahan sempit di tingkat RT/RW untuk pertanian perkotaan.

Urban farming ini diharapkan dapat menjadi solusi ganda, dengan pertanian yang tetap berjalan dan pengelolaan sampah yang terintegrasi.

“Jika pertanian berkembang dan sampah dikelola dengan baik, Makassar akan menjadi kota yang lebih baik,” pungkasnya.

Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2) Kota Makassar menyelenggarakan Musyawarah Tani Abbulo Sibatang sebagai langkah strategis untuk mengoptimalkan lahan pertanian dan meningkatkan produktivitas padi, terutama dalam menghadapi kekeringan dan cuaca yang tidak menentu.

“Kegiatan ini dihadiri oleh 300 peserta, termasuk kelompok tani, kelompok wanita tani, kelompok tani nelayan, dan penyuluh pertanian,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar, Aulia Arsyad.

Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan sejumlah regulasi, seperti Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 11 Tahun 2023 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Aulia menambahkan bahwa musyawarah ini bertujuan untuk mengoptimalkan lahan pertanian, meningkatkan peran serta petani dalam pembangunan pertanian, serta menerapkan teknologi pertanian untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan.

“Sasaran kegiatan ini adalah mempersiapkan kelompok tani dalam menghadapi musim tanam 2025–2026 dan musim tanam gadu 2026,” tambahnya.

Pada acara tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan untuk petani, yang terdiri dari 2.679 liter pupuk organik cair, 2.084 kilogram benih padi sebar, dan 350 botol pestisida nabati.

“Bantuan ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kolaborasi antara petani, penyuluh, dan pemerintah dalam menciptakan pertanian yang berkelanjutan di Kota Makassar,” tutupnya.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Kadis Perikanan dan Pertanian Kota Makassar Aulia Arsyad, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Dr. Alamsyah Sahabuddin, S.STP., M.Si., Danramil 1408-11/Biringkanaya Mayor Inf Turimin, Camat Biringkanaya Juliaman, S.Sos., Kapolsek Biringkanaya Kompol Nico Ericson Reinhold, S.I.K., serta para camat dan lurah se-Kecamatan Biringkanaya.

Penulis: Ardhi