Lintaskabar.id, Makassar — Pengamat ekonomi Universitas Bosowa (Universitas Bosowa), Dr. Lukman Setiawan, menilai kenaikan bahan bakar minyak (BBM) paling berat menekan kelompok kelas menengah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ia menjelaskan, kelas menengah berada dalam posisi paling rentan karena tidak menerima bantuan sosial seperti masyarakat berpenghasilan rendah, sementara kelompok atas tidak terlalu merasakan dampaknya.

“Kenaikan BBM itu paling kerasa justru di kelas menengah. Orang kaya nggak ngaruh, orang bawah ada bansos. Yang ‘kejepit’ ya kelas menengah,” ujarnya. Kamis (11/6)

BBM Memicu Efek Domino pada Ekonomi

Dr. Lukman menuturkan kenaikan BBM memicu efek domino yang merambat ke seluruh sektor ekonomi.

Ia menyebut BBM sebagai penggerak utama aktivitas ekonomi yang menentukan biaya hidup masyarakat.

“BBM itu ibarat darahnya ekonomi. Naik 1x, semua ikut naik,” tuturnya.

Kenaikan Biaya Transportasi Langsung Terjadi

Pekerja komuter, pengemudi transportasi online, dan pelajar langsung merasakan kenaikan biaya transportasi akibat naiknya harga BBM.

Akibatnya, masyarakat mengeluarkan biaya tambahan untuk mobilitas harian, sementara pendapatan tetap.

Harga Kebutuhan Pokok Ikut Naik

Kenaikan BBM mendorong naiknya biaya distribusi barang kebutuhan pokok.

Lukman mencontohkan, kenaikan biaya angkut langsung memengaruhi harga di pasar.

“Truk sayur dari Bandung ke Jakarta solar naik → harga di pasar ikut naik 5-10%,” ungkapnya.

UMKM dan Industri Menanggung Beban Biaya Produksi

Pelaku UMKM dan industri manufaktur menghadapi peningkatan biaya logistik dan produksi.

Perusahaan harus memilih antara menaikkan harga atau menekan margin keuntungan agar tidak kehilangan pelanggan.

“Logistik naik 8-15%. Mau naikin harga takut buyer kabur, nggak naikin margin habis,” jelasnya.

Kelas Menengah Mengalami Tekanan Paling Besar

Kelas menengah mengalami tekanan paling besar karena tidak memperoleh subsidi maupun bantuan sosial.

“Kelompok bawah kepukul, tapi ada BLT. Kelas atas nggak kerasa. Kelas menengah paling sakit,” ujarnya.

Kenaikan BBM Mempengaruhi Psikologi Konsumen

Masyarakat menunda berbagai keputusan ekonomi karena khawatir harga kembali naik.

Lukman menyebut kondisi ini memicu perlambatan konsumsi dan investasi rumah tangga.

“Orang jadi mikir ‘bulan depan pasti naik lagi’, akhirnya nunda keputusan besar,” katanya.

Kenaikan BBM Menggerus Daya Beli Secara Bertahap

Lukman menegaskan kenaikan BBM tidak langsung membuat masyarakat jatuh miskin, tetapi secara perlahan mengurangi daya beli kelas menengah.

“Intinya BBM naik itu nggak bikin miskin mendadak, tapi bikin naik kelas jadi lebih susah, turun kelas jadi lebih gampang,” tutupnya.

Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya Pertamax (RON 92), menjadi Rp16.250 per liter mulai Rabu (10/6/2026). Sebelumnya, harga Pertamax tercatat Rp12.300 per liter. (Ag)