Lintaskabar.id, Makassar – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian setelah kurs USD/IDR menyentuh level Rp17.866 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan memunculkan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi nasional.
Pengamat ekonomi Universitas Bosowa (Unibos), Lukman Setiawan, menilai kombinasi faktor global dan domestik masih memberikan tekanan kuat terhadap rupiah.
“USD/IDR di 17.866 itu udah level tertinggi baru beberapa tahun terakhir,” kata Lukman, Jumat (29/5)
The Fed dan Ketidakpastian Global Dorong Penguatan Dolar
Lukman menjelaskan bahwa kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang masih mempertahankan suku bunga tinggi menjadi faktor utama penguatan dolar AS.
Menurutnya, investor global cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar karena menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih menarik dibandingkan banyak negara berkembang.
“The Fed masih hawkish. Suku bunga AS tinggi bikin investor global tarik dana ke dolar,” ujarnya.
Selain itu, tingginya kebutuhan dolar untuk membayar utang luar negeri, impor energi, dan kebutuhan avtur turut meningkatkan permintaan valuta asing di dalam negeri.
“Permintaan dolar tinggi buat bayar utang luar negeri, impor energi, avtur. Cadangan devisa BI juga kepakai buat stabilisasi,” jelasnya.
Ia juga menilai meningkatnya ketidakpastian geopolitik global membuat investor mencari instrumen investasi yang dianggap lebih aman.
“Sentimen global, ketidakpastian geopolitik plus risk-off bikin orang lari ke dolar sebagai safe haven,” tambahnya.
Pelemahan Rupiah Berpotensi Picu Kenaikan Harga
Lukman menilai pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada harga berbagai barang yang bergantung pada impor.
Komoditas seperti bahan bakar, gandum, kedelai, obat-obatan, suku cadang kendaraan, hingga produk elektronik berpotensi mengalami kenaikan harga apabila nilai tukar terus tertekan.
“Harga barang impor naik, seperti bensin, gandum, kedelai, obat, spare part, iPhone. Inflasi bisa ketekan lagi,” katanya.
Selain itu, pemerintah dan perusahaan yang memiliki kewajiban utang luar negeri harus menyiapkan dana lebih besar untuk pembayaran cicilan.
“Cicilan utang luar negeri pemerintah dan BUMN jadi lebih berat,” ujarnya.
Eksportir dan Pekerja Migran Berpeluang Untung
Meski membawa sejumlah tantangan, Lukman melihat pelemahan rupiah juga membuka peluang keuntungan bagi sektor tertentu.
Pelaku usaha yang berorientasi ekspor berpotensi memperoleh pendapatan lebih besar ketika hasil penjualan luar negeri dikonversi ke rupiah.
“Eksportir sawit, batu bara, udang, tekstil senyum karena jualan ke luar negeri hasilnya lebih banyak rupiah,” katanya.
Hal serupa juga dirasakan pekerja migran Indonesia yang menerima penghasilan dalam dolar AS.
“TKI dan TKW yang kiriman dolar juga untung. Sektor pariwisata inbound lebih murah buat turis asing,” tambahnya.
Menurut Lukman, kondisi tersebut dapat memberikan dorongan bagi sektor ekspor dan pariwisata yang mengandalkan kunjungan wisatawan mancanegara.
Level Rp18.000 Jadi Batas Psikologis Pasar
Lebih lanjut, Lukman menilai rentang Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS menjadi level psikologis yang akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam waktu dekat.
Ia memperkirakan Bank Indonesia akan terus melakukan langkah stabilisasi apabila pergerakan rupiah dinilai terlalu bergejolak.
“17.800–18.000 ini level psikologis. BI biasanya masuk pasar kalau volatilitasnya tinggi biar nggak loncat-loncat,” jelasnya.
Meski demikian, ia menilai tekanan terhadap rupiah masih akan bertahan selama selisih suku bunga antara Bank Indonesia dan The Fed belum cukup menarik untuk menahan arus modal keluar.
“Tapi selama selisih suku bunga BI 5,75 persen versus Fed 5,25–5,50 persen nggak melebar, tekanan ke rupiah masih ada,” ujarnya.
Masyarakat Perlu Menyesuaikan Strategi Keuangan
Menghadapi kondisi tersebut, Lukman mengimbau masyarakat untuk lebih cermat mengelola keuangan, terutama bagi yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing.
“Punya cicilan dolar atau utang valas, coba hedging atau lunasi sebagian,” sarannya.
Ia juga menyarankan masyarakat yang berencana berlibur ke luar negeri untuk mempertimbangkan kembali pengeluaran atau memilih destinasi wisata domestik.
“Mau liburan ke luar negeri bisa ditunda atau ganti destinasi domestik,” katanya.
Sementara itu, bagi masyarakat yang memiliki simpanan dalam bentuk dolar AS, Lukman meminta agar tetap tenang dan tidak mengambil keputusan berdasarkan spekulasi semata.
“Punya dolar, tahan dulu. Tapi jangan all-in spekulasi ya,” tutupnya.







