Lintaskabar.id, Jakarta – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah mendorong Bank Indonesia (BI) mengambil langkah agresif demi menjaga stabilitas pasar keuangan nasional. Gubernur BI Perry Warjiyo membeberkan tujuh strategi utama yang kini dijalankan untuk menahan pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Pernyataan itu disampaikan Perry saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5). Dalam forum tersebut, anggota dewan menyoroti pelemahan rupiah yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Pada perdagangan Senin sore, rupiah tercatat berada di level Rp17.668 per dolar AS atau melemah 71 poin dibanding perdagangan sebelumnya.
BI Naikkan Dosis Intervensi Pasar
Sebagai langkah awal, BI meningkatkan intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
“Kami tingkatkan dosis untuk intervensi. Dosisnya kami tingkatkan,” kata Perry.
Intervensi dilakukan melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga Non-Deliverable Forward (NDF). Kebijakan tersebut membuat cadangan devisa Indonesia turun sekitar US$10 miliar atau setara Rp176,66 triliun.
Meski begitu, Perry menegaskan sebagian besar intervensi dilakukan melalui skema swap dan hedging sehingga tekanan terhadap devisa tetap terkendali.
“Penurunan cadangan devisa yang sekitar US$10 miliar itu baru sebagian saja intervensi yang tunai ini karena yang sebagian besar lebih dari dua per tiga itu adalah untuk secara swap sama hedging,” ujarnya.
Di sisi lain, BI memastikan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman sesuai standar International Monetary Fund.
Suku Bunga SRBI Dinaikkan untuk Tarik Modal Asing
Selain memperkuat intervensi, BI juga menaikkan suku bunga instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Kami sudah mulai menaikkan suku bunga instrumen moneter SRBI hampir 100 basis poin,” ujar Perry.
Sejak Januari 2025, BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen. Namun, suku bunga SRBI tenor 12 bulan naik menjadi 6,41 persen guna menarik kembali aliran modal asing ke pasar domestik.
Menurut Perry, kebijakan itu mulai menunjukkan dampak positif. Arus modal asing yang sebelumnya keluar kini mulai kembali masuk ke Indonesia.
“Yang tempo hari banyak outflow, sekarang jadi inflow,” ucapnya.
BI Borong SBN demi Jaga Likuiditas Rupiah
Selanjutnya, BI membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga likuiditas rupiah tetap stabil.
Hingga Mei 2026, pembelian SBN telah mencapai Rp133,39 triliun. Sementara sepanjang 2025, nilai pembelian SBN tercatat Rp332,14 triliun.
Perry menjelaskan langkah tersebut dilakukan agar intervensi rupiah tidak memicu kekeringan likuiditas di pasar keuangan.
Tak hanya itu, BI juga menjual SBN jangka pendek dan membeli SBN jangka panjang demi menjaga stabilitas yield obligasi negara.
“Kami jual yang jangka pendek karena inflownya jangka pendek dan kami beli jangka panjang supaya yield SBN-nya tidak naik terlalu tinggi,” jelasnya.
BI Perketat Pembelian Dolar AS
Sementara itu, BI mulai memperketat pembelian dolar AS tanpa underlying transaksi.
Batas pembelian dolar tanpa underlying yang sebelumnya US$100 ribu dipangkas menjadi US$50 ribu sejak April 2026 dan akan kembali turun menjadi US$25 ribu mulai Juni 2026.
Selain memperketat transaksi dolar, BI juga memperluas penggunaan Local Currency Transaction (LCT), khususnya transaksi rupiah dan yuan China.
“Kami sudah ada transaksi rupiah-yuan di dalam negeri yang nyambung dengan Hongkong, dengan China,” kata Perry.
Pengawasan Transaksi Dolar Diperkuat
Sebagai langkah terakhir, BI meningkatkan pengawasan terhadap pembelian dolar dalam jumlah besar oleh bank maupun korporasi.
“Pengawasan kepada bank-bank dan korporasi yang melakukan transaksi pembelian dolar dalam jumlah besar,” ujar Perry. (**)







