MAKASSAR—Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar memaparkan desain rencana pengelolaan lahan arboretum di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Senat, Lantai 2 Fakultas Kehutanan Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar, dan juga terhubung secara daring melalui Zoom Meeting, Senin kemarin.
Sejumlah pejabat penting hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, Dekan Fakultas Kehutanan Prof. Mujetahid M, Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan SDA Otorita IKN Dr. Myrna Asnawati Safitri.
Deputi Perencanaan dan Pertanahan OIKN Mia Amalia,Hadir pula beberapa direktur terkait dan Tim Pembentukan Arboretum Fakultas Kehutanan Unhas.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Kehutanan Prof. Mujetahid menyampaikan bahwa pertemuan ini bertujuan memaparkan desain awal pengelolaan lahan arboretum seluas 250 hektare.
Pihaknya berharap masukan dari berbagai pemangku kepentingan, khususnya dari OIKN, untuk penyempurnaan desain dan kesesuaian lokasi dengan lahan yang akan dikelola kampus lain seperti ITB dan UGM.
“Kami masih menyusun desain awal dan sangat berharap masukan dari OIKN serta pihak lain agar konsep pengelolaan ini bisa optimal,” ujar Prof. Mujetahid, belum lama ini.
Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, turut menegaskan dukungan penuh terhadap pengelolaan arboretum di IKN yang disiapkan oleh OIKN.
Unhas bahkan telah menyiapkan konsep arboretum bernama Ale’na Unhas, yang diharapkan menjadi simbol keterlibatan Unhas dalam pembangunan IKN sekaligus bentuk komitmen menjaga lingkungan berkelanjutan.
“Konsep arboretum Hutan Nusantara Unhas akan menjadi simbol pluralisme dan komitmen keberlanjutan lingkungan. Ini bentuk kontribusi nyata Unhas terhadap pembangunan ibu kota baru,” kata Prof. JJ.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Ir. Ngakan Putu Oka, M.Sc. selaku ketua tim perancang, menjelaskan bahwa arboretum Ale’na Unhas dirancang untuk mendukung kualitas lingkungan perkotaan IKN melalui penyediaan ruang terbuka hijau multifungsi. Kawasan ini akan memadukan fungsi ekologis, edukatif, konservasi, hingga estetika.
Beberapa zona yang direncanakan di antaranya adalah blok pemanfaatan, blok sumber daya genetik, blok unggulan lokal Wallacea, blok pendidikan dan riset, blok tanaman lokal, serta blok suksesi alami dan restorasi.
Setelah pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif hingga pukul 11.00 Wita yang diikuti oleh seluruh peserta secara luring maupun daring.
Penulis:Anugrah







