ESSAY-Sejak republik ini berdiri, Indonesia Timur—termasuk Papua, Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara—telah berkontribusi besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Wilayah yang kaya akan sumber daya alam ini, mulai dari laut, dataran rendah, hingga dataran tinggi, telah memberikan banyak hal untuk Indonesia. Keunggulan ini dikenal dengan sebutan “Tiga Dimensi.
Masalah yang Belum Terpecahkan di Indonesia Timur
Berbagai masalah negara dan bangsa yang kami nilai belum juga menemukan solusi atau jalan keluar. Indonesia Timur selalu menghadapi kenyataan pahit: janji-janji pembangunan yang tak kunjung ditepati, diskriminasi ekonomi yang terus dirasakan, serta ketidakadilan bagi rakyat dan bangsa di bagian timur Indonesia. Setiap lembar sejarah mengingatkan kita akan pentingnya Merah Putih sebagai simbol persatuan dan kemerdekaan. Namun, kemarin kita menyaksikan bahwa tujuan desentralisasi untuk kesetaraan dan keadilan ekonomi mulai kabur di hati rakyat Indonesia Timur. Mimpi yang tak pernah terwujud ini menggambarkan ketidakadilan yang terus berlarut-larut.
Keadaan Ekonomi yang Tertinggal di Indonesia Timur
Wilayah Indonesia Timur, yang kaya akan sumber daya alam, telah memberikan banyak hal bagi Indonesia, seperti hasil laut, sumber daya mineral, dan masyarakatnya yang gigih. Namun, di balik semua itu, Indonesia Timur sering kali terlupakan dalam arus pembangunan nasional. Proyek seperti percetakan sawah 3 juta hektar di Papua, yang beruntungnya didorong oleh pengusaha lokal, diharapkan dapat berkembang merata di seluruh wilayah Indonesia Timur. Namun, proyek-proyek infrastruktur seperti jalan darat, pelabuhan laut dan udara yang tidak merata, sering kali hanya menjadi janji kosong. Lumbung Ikan Nasional (LIN) di Papua Barat, Maluku Utara, dan Sulawesi Utara, yang hasilnya diperdagangkan di bursa ikan internasional, serta pelabuhan atau New Port di wilayah Papua, Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara, mencerminkan betapa terpinggirkannya Indonesia Timur dalam prioritas nasional. Blok Masela dan proyek lainnya pun belum memberikan dampak signifikan.
Kesulitan Ekonomi dan Ketidakadilan Sosial di Indonesia Timur
Realitas ini sangat menyayat hati bagi setiap warga yang berharap adanya perbaikan kualitas hidup dan peningkatan sumber daya manusia. Munculnya wacana keras untuk mengembalikan Merah Putih ke Jakarta dari Maluku dan Papua mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap pemerintah pusat. Kesetaraan dan keadilan yang seharusnya ada di kampung halaman justru terasa asing. Perjuangan bukan hanya soal fisik pembangunan, tetapi juga soal rasa keadilan yang seharusnya bisa dirasakan secara merata. Ketimpangan ekonomi yang terpusat di Jakarta menyebabkan biaya ekonomi tinggi pada semua sektor, yang semakin mempersulit kehidupan rakyat di Indonesia Timur.
Indonesia Timur menjadi contoh nyata bagaimana sebuah daerah yang kaya sumber daya alam tetap menderita akibat distribusi ekonomi yang timpang. Royalti dari sumber daya alam yang ada, seperti yang tercermin dalam “Tiga Dimensi” tersebut, tidak mencerminkan kontribusi nyata terhadap wilayah Indonesia Timur. Ironisnya, rakyat di Indonesia Timur hidup dalam kondisi serba kekurangan. Infrastruktur yang minim, pendidikan yang rendah, dan layanan kesehatan yang tidak memadai menjadi kenyataan sehari-hari di wilayah ini.
Harapan untuk Perubahan di Era Kepemimpinan Presiden Prabowo
Semoga kepemimpinan Bapak Presiden Prabowo, yang sebagian berdarah Indonesia Timur, dapat membawa perubahan serius untuk keadilan ekonomi di wilayah tersebut. Kami mengusulkan sebuah langkah konkret, yaitu pembentukan pemerintahan desentralisasi dengan posisi Menteri Koordinator Indonesia Timur (Menko Indonesia Timur), yang membawahi kementerian-kementerian yang sesuai dengan kondisi sosial ekonomi Indonesia Timur. Semoga ke depannya, Indonesia Timur mendapatkan perhatian yang sebanding dengan kontribusinya, dan semoga kelak pengganti Bapak Prabowo adalah putra terbaik dari Indonesia Timur, yaitu putra Papua, Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.
Penulis:Annar Salahuddin Sampetoding (Dewan Ekonomi Indonesia Timur)







