NEPAL — Nepal tengah dilanda krisis multidimensi yang ditandai dengan gelombang protes besar-besaran di berbagai kota.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Demonstrasi pecah setelah pemerintah memblokir sejumlah platform media sosial populer seperti Facebook, WhatsApp, hingga Instagram.

Kebijakan tersebut memicu amarah publik, terutama generasi muda yang merasa hak berekspresi mereka dilanggar. Aksi ini meluas menjadi bentrokan antara aparat dan massa, menewaskan sedikitnya 19 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya.

Generasi Z Nepal menjadi garda depan aksi, menuntut bukan hanya kebebasan bermedia sosial, tetapi juga transparansi pemerintahan, pemberantasan korupsi, hingga penciptaan lapangan kerja.

Kekecewaan semakin diperparah oleh isu nepotisme, korupsi, dan jurang ketimpangan ekonomi. Tercatat, 56% kekayaan nasional hanya dikuasai oleh 20% populasi, termasuk elite politik.

Meski situasi politik memanas, data World Bank menunjukkan PDB Nepal tetap tumbuh. Dari US$34,19 miliar pada 2019, ekonomi Nepal naik menjadi US$42,91 miliar pada 2024, atau meningkat 23,3%.

Pemulihan sempat tertahan pandemi Covid-19, ketika PDB 2020 merosot ke US$33,43 miliar. Namun pada 2022, pertumbuhan kembali menguat 5,63% yoy hingga mencapai US$41,18 miliar.

Kenaikan ini dipicu sektor pariwisata, belanja modal pemerintah, serta modernisasi pertanian. Namun para analis mengingatkan, pertumbuhan tersebut bersifat nominal dan rentan terhadap inflasi serta pelemahan kurs.

Nepal Rastra Bank mencatat inflasi tahunan turun tajam ke 2,2% pada Juli 2025, level terendah dalam lima tahun. Angka ini jauh lebih rendah dari 3,57% di Juli 2024 dan rata-rata 7,44% pada 2023.

Turunnya inflasi dipengaruhi peningkatan produksi domestik, kuatnya cadangan devisa, serta kebijakan moneter ketat. Inflasi rendah memberi napas bagi masyarakat setelah bertahun-tahun menghadapi harga bahan pokok tinggi.

Di balik angka makro yang positif, pengangguran masih menjadi persoalan serius. Tingkat pengangguran pemuda mencapai 10,71%, salah satu yang tertinggi di Asia Selatan.

Jurang sosial-ekonomi makin lebar karena kekayaan nasional terkonsentrasi pada segelintir orang. Kondisi ini menimbulkan rasa frustasi mendalam, terutama di kalangan muda yang merasa tidak punya kesempatan kerja maupun akses ekonomi yang adil.

Gejolak politik juga menekan mata uang Nepal. Pada 5 September 2025, rupee Nepal (NPR) melemah 0,13% ke level NPR 141,22 per US$, terlemah sepanjang sejarah. Secara year-to-date, depresiasi mencapai 3,06%.

Pelemahan ini erat terkait kurs tetap Nepal dengan rupee India pada rasio 1,60. Karena itu, setiap gejolak rupee India langsung berdampak pada Nepal.

“Depresiasi berkepanjangan akan membuat kebutuhan pokok semakin mahal, sebab pengeluaran makanan mendominasi konsumsi rumah tangga,” kata ekonom Puskar Bajracharya, dilansir dari CNBC.

Selain itu, beban pembayaran utang luar negeri pascagempa 2015, kenaikan harga bahan bakar, serta pupuk kimia semakin menekan ekonomi Nepal, khususnya sektor energi dan pertanian.

Penulis: Amriadi.