JAKARTA—Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengusulkan integrasi ekoteologi dan pelestarian lingkungan ke dalam kurikulum pendidikan agama dan keagamaan di Indonesia.
Hal ini disampaikan dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pendidikan Islam 2025 yang berlangsung di Jakarta, Selasa kemarin.
Menag menyoroti tiga fokus utama untuk pengembangan pendidikan agama di masa depan: isu lingkungan, toleransi, dan nasionalisme. Menurutnya, relevansi pendidikan harus mampu menjawab tantangan zaman, khususnya krisis lingkungan.
Pendekatan ekoteologi, yang mengintegrasikan nilai agama dengan pelestarian alam, menjadi salah satu solusinya.
“Konsep khalifah dalam Islam adalah landasan moral yang mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan. Al-Quran dan hadis secara tegas mengingatkan kita untuk tidak merusak bumi,” ujar Menag.
Ia menambahkan bahwa dalam tafsir Al-Quran yang diterbitkan Kementerian Agama, khalifah (QS Al-Baqarah: 30) diterjemahkan sebagai pengelola alam semesta.
Menag berharap konsep ini dapat diterapkan dalam kurikulum pendidikan agama, sehingga pelestarian lingkungan dipandang sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab manusia.
Selain isu lingkungan, Menag juga menekankan pentingnya penguatan toleransi melalui moderasi beragama.
Ia memperkenalkan pendekatan “Kurikulum Cinta” untuk mengintegrasikan nilai moderasi dalam Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan.
“Pendidikan adalah kunci utama untuk menciptakan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman,” tegas Menag.
Moderasi beragama dinilai strategis untuk membangun masyarakat yang inklusif dan menanamkan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.
Nasionalisme juga menjadi fokus utama. Menag menekankan perlunya pendidikan sejarah, penguatan budaya lokal, dan penghayatan nilai-nilai Pancasila untuk menumbuhkan cinta tanah air.
“Nasionalisme bukan sekadar slogan, melainkan jiwa dari setiap kebijakan pendidikan kita,” ungkap Menag.
Pendidikan agama diharapkan menjadi benteng pertahanan identitas bangsa di tengah pengaruh globalisasi, sehingga generasi muda memiliki wawasan global tanpa kehilangan akar budaya.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Abu Rokhmad, menegaskan pentingnya pelaksanaan program yang bersih, responsif, dan melayani.
“Perencanaan yang baik harus diikuti dengan eksekusi nyata yang menghasilkan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga memperkenalkan visi besar Pendidikan Islam, yakni “MAJU dan HEBAT.” MAJU adalah singkatan dari Melayani, Amanah, Juara, dan Unggul, sementara HEBAT melambangkan Helpful, Excellent, Brave, Active/Authentic, dan Think.
Penulis: Ardhi







