Lintaskabar.id,Opini – Saya meyakini kota yang sehat adalah kota yang masih memberi ruang bagi tanah untuk tetap “bernapas”.
Saat ini, perkembangan kota berlangsung sangat cepat. Beton terus berdiri, lorong makin padat, dan rumah-rumah saling berhimpitan. Namun di balik pertumbuhan itu, muncul persoalan yang kerap luput dari perhatian, yakni volume sampah yang terus meningkat dan hubungan manusia dengan tanah yang perlahan memudar.
Makassar pun menghadapi kondisi serupa.
Setiap hari, ribuan ton sampah dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa Antang. Truk sampah hilir mudik tanpa henti seperti menggambarkan kota yang terus bekerja menanggung bebannya sendiri. Ironisnya, sebagian besar sampah tersebut berasal dari aktivitas rumah tangga, seperti sisa sayur, kulit buah, nasi basi, hingga limbah dapur lainnya yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan.
Selama ini, masyarakat terbiasa menganggap sampah sebagai sesuatu yang selesai ketika dibuang. Padahal, memindahkan sampah dari rumah ke TPA bukan berarti menyelesaikan persoalan, melainkan hanya memindahkan masalah ke tempat lain.
Gerakan Tanami Tanata’ Lahir dari Kegelisahan Lingkungan
Berangkat dari kegelisahan itu, Gerakan Tanami Tanata’ pun hadir. Dalam bahasa Makassar, Tanami Tanata’ berarti “Tanami Tanah Kita”.
Gerakan ini menjadi ajakan agar masyarakat kembali membangun hubungan dengan tanah dan lingkungan sekitarnya. Bagi saya, urban farming bukan sekadar tren menanam cabai di pot atau mempercantik lorong demi kepentingan seremonial. Lebih jauh, pertanian perkotaan merupakan cara membangun pola pikir baru tentang kehidupan kota.
Kota tidak hanya menjadi ruang konsumsi, tetapi juga harus mampu menghasilkan kehidupan.
Karena itu, Tanami Tanata’ tidak dimulai dari bibit tanaman, melainkan dari dapur rumah tangga. Dari ruang sederhana itulah siklus kehidupan kota bermula.
Ketika warga mulai memilah sampah organik, memisahkan kulit buah dari plastik, dan memandang sisa dapur sebagai sesuatu yang masih bernilai, saat itulah kota mulai belajar menjadi lebih dewasa secara ekologis.
Sampah Organik Diolah Menjadi Sumber Kehidupan Baru
Selain itu, gerakan ini berupaya memutus pola lama: produksi, konsumsi, lalu buang. Pola linear tersebut membuat kota semakin bergantung pada TPA yang kapasitasnya terus menurun.
Sebagai alternatif, Tanami Tanata’ mendorong siklus yang lebih berkelanjutan.
Sisa dapur difermentasi menjadi eco-enzyme. Sebagian lainnya diolah menjadi kompos menggunakan metode sederhana seperti Takakura, ember tumpuk, dan biopori. Warga juga memanfaatkan budidaya maggot Black Soldier Fly untuk mengurai sampah organik sekaligus menghasilkan pakan bernilai ekonomi.
Selanjutnya, seluruh hasil pengolahan itu dikembalikan ke tanah sebagai pupuk dan nutrisi tanaman. Dari sana tumbuh cabai, kangkung, sawi, tomat, hingga mendukung kolam ikan dan peternakan kecil di kawasan perkotaan.
Di titik tersebut, gerakan ini bukan sekadar penghijauan. Kita sedang mengembalikan makna siklus hidup, bahwa sesuatu yang dianggap sisa ternyata masih dapat menjadi sumber kehidupan baru.
Lorong Kota Berubah Menjadi Ruang Interaksi Warga
Di sisi lain, Makassar memiliki modal sosial yang kuat. Lorong-lorongnya masih hidup dan masyarakatnya saling mengenal. Energi sosial seperti ini sangat berharga di tengah kehidupan kota modern.
Melalui Tanami Tanata’, semangat itu kembali tumbuh. Saya melihat ibu-ibu saling bertukar bibit cabai, anak-anak mulai mengenal kompos, hingga warga belajar membuat eco-enzyme bersama. Ada pula yang memelihara maggot, memanfaatkan pekarangan sempit untuk menanam kangkung, bahkan mengubah dinding lorong menjadi kebun vertikal.
Perlahan, ruang-ruang kota yang sebelumnya dipenuhi tembok berubah menjadi ruang interaksi sosial.
Menurut saya, gerakan lingkungan seharusnya tidak membuat manusia semakin individual. Sebaliknya, gerakan ini harus mampu mempertemukan kembali manusia dengan lingkungan dan sesamanya.
Tanami Tanata’ Didorong Menjadi Gerakan Bersama
Meski demikian, perjalanan gerakan berbasis komunitas tentu tidak mudah. Tantangan terbesar biasanya muncul ketika semangat hanya tinggi saat seremoni, lalu perlahan meredup setelah rutinitas kembali berjalan.
Karena itu, saya percaya Tanami Tanata’ tidak boleh bergantung pada satu figur. Gerakan ini harus menjadi milik warga dan tumbuh melalui fasilitator lorong, kader lingkungan, penyuluh lapangan, hingga komunitas kecil yang bekerja menjaga lingkungannya masing-masing.
Sebab kota tidak dibangun oleh satu orang, melainkan oleh kebiasaan yang dilakukan bersama secara konsisten.
Teknologi Hanya Alat, Kesadaran Tetap Menjadi Kunci
Sementara itu, gerakan ini juga membuka ruang kolaborasi dengan dunia akademik. Diskusi mengenai teknologi pertanian perkotaan, pemetaan produksi pangan lorong, hingga pemanfaatan Internet of Things (IoT) mulai berkembang bersama kampus dan komunitas.
Namun demikian, teknologi hanyalah alat. Hal terpenting tetap terletak pada kesadaran manusianya.
Secanggih apa pun teknologi pengelolaan sampah, semuanya tidak akan cukup jika masyarakat masih mempertahankan budaya membuang tanpa mengelola.
Hari ini, banyak orang membayangkan masa depan kota melalui gedung tinggi, jalan layang, atau pusat bisnis modern. Padahal, masa depan kota bisa saja lahir dari hal-hal sederhana: dari dapur yang memilah sampahnya sendiri, ember kompos di halaman rumah, cabai yang tumbuh di lorong sempit, hingga warga yang kembali mengenal tanahnya.
Saya percaya, kota masa depan bukanlah kota tanpa sampah karena itu hanya utopia. Akan tetapi, kota masa depan adalah kota yang mampu mengelola sisa hidupnya sendiri secara bijaksana.
Pada akhirnya, perubahan besar memang sering dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama-sama: dari satu rumah, satu lorong, satu bibit, lalu tumbuh menjadi harapan baru bagi seluruh kota.
Fadly Padi (Artis dan Aktivis Inisiator Gerakan Tanami Tanata’)







