MAKASSAR — Upaya pemberdayaan perempuan di Kota Makassar terus diperkuat oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) melalui program pelatihan berbasis kearifan lokal. Pada Rabu (23/7), Ketua Dekranasda Kota Makassar, Melinda Aksa meresmikan pembukaan Ruang Jahit Dekranasda, sebuah program pelatihan keterampilan menjahit yang berlangsung selama satu bulan penuh di Gedung PKK, Lantai 3.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kegiatan ini diikuti oleh 30 penjahit pemula yang ingin mengasah keterampilan mereka dalam dunia tata busana. Dengan mengangkat tema “Perajin Perempuan Mulia, Berdaya Saing Global”, Ruang Jahit dirancang sebagai ruang belajar dan berkarya, sekaligus bagian dari strategi penguatan ekonomi kreatif perempuan.

Dalam sambutannya, Melinda Aksa menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk nyata komitmen Dekranasda untuk menciptakan ruang aktualisasi bagi perempuan di luar ruang domestik. Ia menegaskan, perajin perempuan memiliki potensi besar untuk menembus pasar internasional dengan produk yang berciri khas lokal.

“Perempuan perajin bukan hanya bekerja di rumah, tapi bisa tampil dan bersaing secara global lewat karya yang bernilai budaya dan berkualitas,” ujarnya penuh semangat.

Melinda juga menyoroti kekayaan budaya Makassar yang tercermin dalam produk-produk kerajinan seperti tenun, bordir, hingga busana siap pakai. Menurutnya, tugas bersama adalah menjaga sekaligus mengangkat warisan tersebut sebagai identitas sekaligus keunggulan kompetitif.

“Produk kita tidak kalah. Hanya perlu ruang dan dukungan untuk tumbuh. Inilah yang coba kami wujudkan lewat Ruang Jahit ini,” tambahnya.

Lebih dari sekadar pelatihan teknis, Ruang Jahit juga diharapkan menjadi pintu pembuka bagi peserta untuk membangun usaha berbasis keterampilan. Melinda berharap para peserta tidak hanya terampil, tetapi juga mampu memasarkan karya mereka dan menjangkau peluang ekonomi yang lebih luas.

“Jika sudah siap, hasil karya bisa kita tampilkan di pameran-pameran Dekranasda, baik lokal maupun nasional,” katanya.

Setelah sambutan, peresmian ditandai dengan pemotongan pita oleh Melinda Aksa, yang kemudian meninjau langsung kegiatan pelatihan hari pertama dan berdialog dengan para peserta.

Peserta Ruang Jahit dibagi menjadi dua kelompok dan mengikuti sesi pelatihan setiap hari. Di hari pertama, mereka dikenalkan pada dasar-dasar menjahit — mulai dari pengenalan alat, teknik mengukur, memotong kain, hingga menyusun pola. Pelatihan dibimbing oleh instruktur dari Dekranasda dan guru tata busana SMK Negeri 8 Makassar, Dra. Iting.

Selama satu bulan pelatihan, peserta ditargetkan dapat menyelesaikan satu busana tradisional khas Sulawesi Selatan, yaitu baju bodo, sebagai bukti keterampilan dan pelestarian budaya lokal.

Ruang Jahit Dekranasda juga mendapat dukungan dari Bosowa Education yang memberikan bantuan berupa 10 mesin jahit, 1 mesin obras, dan 1 mesin neci. Seluruh alat ini digunakan langsung oleh peserta untuk praktik menjahit sepanjang pelatihan.

Penulis: Ardhi