Lintaskabar.id, Iran – Mata uang Iran, rial (IRR), kembali mencetak rekor terendah di tengah krisis moneter yang kian dalam. Kondisi ini tidak hanya memukul ekonomi rakyat Iran, tetapi juga menarik perhatian pasar global.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Perbedaan Kurs Resmi dan Pasar Bebas Makin Lebar

Pertama, pemerintah Iran menetapkan kurs resmi sekitar Rp0,37–Rp0,40 per 1 rial untuk transaksi tertentu. Namun, di pasar bebas, nilai rial jatuh jauh hingga sekitar Rp0,016 per 1 rial.

Dengan demikian, Rp1 setara sekitar 62,5 rial Iran, sementara Rp1.000 dapat ditukar dengan kurang lebih 62.500 rial.

Sanksi Internasional Tekan Ekonomi

Selanjutnya, sejak September 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali memberlakukan sanksi melalui mekanisme snapback. Akibatnya, Iran terisolasi dari sistem perdagangan dan perbankan internasional, sehingga tekanan terhadap perekonomian semakin berat.

Ekspor Minyak Merosot, Devisa Menipis

Selain itu, ekspor minyak Iran ke Tiongkok turun lebih dari 50 persen. Penurunan ini menghilangkan sumber devisa utama dan melemahkan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas nilai tukar rial.

Jalur Keuangan Terputus

Pada saat yang sama, sanksi Amerika Serikat membongkar jaringan perbankan bayangan Iran. Dampaknya, jalur pemindahan dana hasil ekspor terputus dan pasokan dolar di pasar domestik semakin langka. Situasi ini memicu krisis kepercayaan publik dan mempercepat pelemahan rial.

Dampak Global dan Domestik

Di tingkat global, krisis ini menunjukkan kuatnya efek sanksi multilateral PBB dan berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dunia karena Iran merupakan produsen minyak besar. Sementara itu, di dalam negeri, tekanan ekonomi memicu gelombang protes yang signifikan. (Zi)