Lintaskabar.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin pagi. Rupiah melemah 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp16.981 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.980 per dolar AS.
Kenaikan Harga Minyak Tekan Rupiah
Pelemahan ini terjadi seiring lonjakan harga minyak mentah dunia. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai faktor tersebut menjadi pemicu utama.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang memburuk dan harga minyak mentah dunia yang masih terus naik,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Harga minyak global terus naik, dengan West Texas Intermediate (WTI) menembus 103 dolar AS per barel. Gangguan di Selat Hormuz sejak awal Maret 2026, yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 juta barel per hari, memicu keterbatasan pasokan dan kenaikan harga.
Kebijakan The Fed Perkuat Tekanan
Di sisi lain, pasar juga merespons kebijakan moneter Amerika Serikat. Investor memperkirakan Federal Reserve akan menahan suku bunga di level tinggi dan berpeluang menaikkannya tahun ini.
“Indeks dolar AS sendiri terpantau terus naik, dengan investor sekarang memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga dan peluang untuk menaikkan suku bunga tahun ini ketimbang memangkasnya. Namun, mendekati level psikologis Rp17 ribu, diperkirakan BI (Bank Indonesia) akan intervensi,” kata Lukman.
Inflasi dan Proyeksi Rupiah
Lukman menilai kenaikan harga minyak berpotensi memicu inflasi sehingga mendorong bank sentral menaikkan suku bunga.
“Harga minyak yang tinggi dipastikan akan memicu inflasi, sehingga bank sentral akan merespons dengan kenaikan suku bunga,” ungkap dia.
Berdasarkan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS. (Zi)







