MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali menorehkan prestasi akademik membanggakan. Kampus biru ini secara resmi mengukuhkan Prof. Dr. Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D. sebagai Guru Besar Bidang Pendidikan Bahasa Inggris, melalui Rapat Senat Terbuka Luar Biasa di Balai Sidang Unismuh Makassar, Senin (6/10).
Pengukuhan ini menjadikan Prof. Erwin sebagai Guru Besar ke-28 di lingkungan Unismuh Makassar menambah deretan panjang capaian akademik kampus yang terus berkembang pesat di tingkat nasional dan internasional.
Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan atas capaian tersebut.
Ia menegaskan bahwa kehadiran guru besar menjadi indikator penting dalam memperkuat daya saing universitas, terutama dalam hal pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan reputasi akademik.
“Kehadiran guru besar menjadi sesuatu yang sangat penting artinya, terutama dalam memenuhi berbagai kriteria akreditasi unggul dan World University Ranking,” ujar Rektor.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para dosen Unismuh yang terus berjuang meraih gelar tertinggi di dunia akademik.
“Kami menyebutnya sebagai jihad akademik, perjuangan untuk mengabdi melalui ilmu pengetahuan. Setiap guru besar baru adalah bukti nyata komitmen dan dedikasi sivitas akademika Unismuh,” tegasnya.
Lebih jauh Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda mengungkapkan bahwa saat ini masih ada empat dosen yang tengah berproses menuju jabatan guru besar dua di antaranya sedang tahap review di Kementerian, dan dua lainnya telah diusulkan melalui Senat Akademik.
“Semoga prosesnya berjalan lancar sesuai standar akademik yang ditetapkan. Jika keempatnya berhasil, maka jumlah guru besar Unismuh Makassar akan bertambah menjadi 32 orang,” tambahnya optimistis.
Sementara itu, dalam pidato pengukuhannya, Prof. Erwin Akib menyoroti pentingnya penilaian holistik dalam sistem pendidikan nasional.
Ia menekankan bahwa proses pembelajaran seharusnya tidak hanya berorientasi pada hasil akhir (end of the process), tetapi juga menilai setiap tahapan proses belajar secara menyeluruh dan berkesinambungan.
“Salah satu faktor penting dalam pembelajaran adalah bagaimana strategi penilaian mampu menilai proses, bukan hanya hasil. Penilaian harus dilakukan secara utuh,” ungkapnya.
Menurutnya, praktik penilaian di dunia pendidikan saat ini masih terlalu fokus pada aspek kognitif, sementara afektif dan psikomotor kerap terabaikan.
“Tiga ranah pendidikan afektif, psikomotor, dan kognitif seharusnya dijalankan secara terpadu agar mencerminkan penilaian yang sebenarnya,” jelasnya.
Sebagai akademisi yang dikenal dengan kepeduliannya terhadap inovasi pembelajaran, Prof. Erwin juga menekankan pentingnya penerapan konsep assessment for learning atau penilaian untuk pembelajaran dalam sistem pendidikan Indonesia.
“Saya sangat sepakat dengan arah kebijakan Mendikdasmen yang mengedepankan deep learning dan joyful learning. Anak-anak tidak hanya perlu didorong dalam aspek kognitif, tetapi juga dalam karakter dan sikap. Pembelajaran yang menyenangkan akan melahirkan pemahaman yang mendalam,” tutupnya.
Penulis: Ardhi







