Lintaskabar.id, Makassar — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengajak masyarakat merayakan malam takbiran secara khidmat tanpa konvoi kendaraan dan petasan demi menjaga ketertiban dan keselamatan.
Akademisi Ingatkan Makna Takbiran
Sejalan dengan itu, Guru Besar UIN Alauddin Makassar Prof. Suhufi Abdullah mengingatkan masyarakat agar memaknai takbiran sesuai syariat Islam. Ia juga menjabat pengurus MUI Sulsel dan Sekjen DPP IMMIM.
“Takbiran pada malam Idul Fitri merupakan salah satu syiar agung dalam Islam yang mencerminkan kemenangan spiritual setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Ia menambahkan, “lafaz takbir yang menggema bukan sekadar ekspresi verbal, melainkan simbol pengagungan kepada Allah atas keberhasilan manusia menundukkan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan.”
Pergeseran Makna dan Risiko
Namun, Prof. Suhufi menilai praktik takbiran mulai bergeser. Ia melihat takbiran keliling sering berubah menjadi euforia berlebihan yang berisiko.
“Dalam praktik sosial kontemporer, fenomena takbiran keliling di jalan raya seringkali mengalami pergeseran makna. Aktivitas yang semestinya bernilai ibadah tidak jarang berubah menjadi ajang euforia yang berlebihan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti konvoi tanpa aturan, knalpot bising, dan aksi ugal-ugalan.
“Kondisi ini tidak hanya membahayakan pelaku, tetapi juga masyarakat umum,” tegasnya.
Solusi dan Pendekatan Edukatif
Dalam perspektif fikih, ia menegaskan masyarakat harus menghindari potensi mafsadah.
“Jika takbiran keliling berpotensi menimbulkan bahaya, maka pembatasan bahkan pelarangannya dapat dibenarkan secara syar’i sebagai bentuk sadd adz-dzari’ah, yaitu menutup pintu kerusakan,” ujarnya.
Ia mengusulkan takbiran dipusatkan di masjid dengan waktu serentak.
“Himbauan aktif untuk melaksanakan takbiran di masjid-masjid secara bersamaan, misalnya dengan penentuan jam tertentu, dapat menjadi solusi agar syiar tetap hidup tanpa mengganggu ketertiban,” katanya.
Ia juga mengajak tokoh agama, pemerintah, dan aparat memberi edukasi berkelanjutan.
Momentum Refleksi
Prof. Suhufi menilai Idulfitri sebagai momentum memperkuat kedamaian dan kepedulian sosial.
Ia berharap masyarakat menjadikan takbiran sebagai simbol kebersamaan sekaligus tanggung jawab menjaga keamanan dan kenyamanan publik. (Ar)







