MAKASSAR — Proyek kerja sama teknis MaKaPro antara PDAM Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Kawasaki Waterworks and Sewerage Bureau, dan JICA Indonesia resmi berakhir.
Penutupan proyek ini dilakukan lewat Wrap-Up Seminar di Hotel Aston Makassar & Convention Center, Kamis (7/8). Program yang dimulai sejak November 2022 ini difokuskan pada pengendalian kebocoran air bawah tanah di Makassar.
Seminar penutupan ini dihadiri Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Plt Direktur Utama PDAM Makassar Dr. Hamzah Ahmad, Chief Management Officer Kawasaki Shiratori Shigeyuki, Kepala Konsuler Jepang di Makassar Ohashi Koichi, Perwakilan Senior JICA Indonesia Sato Akira, serta jajaran PDAM dari Maros, Gowa, dan Takalar.
Dalam kesempatan itu, PDAM Makassar menerima hibah teknologi deteksi kebocoran dari Jepang. Peralatan yang diserahkan meliputi OnChoBo Tipe Elektrik, alat Auto Water Leakage Judgement, Leakage Detector Tipe Noise Cut, High Sensitivity OnChoBo, Metal Detector, dan Portable Ultrasonic Flow Rate Meter.
Chief Management Officer Kawasaki, Shiratori Shigeyuki, menyampaikan bahwa selama tiga tahun berjalan, rata-rata kehilangan air (NRW) di dua pilot area turun 21 persen. Sedangkan di Pilot Area 1 Bumi Permata Hijau, proses evaluasi akan dilakukan Oktober mendatang. Ia berharap capaian ini dapat diperluas ke lebih banyak wilayah.
Kepala Konsuler Jepang di Makassar, Ohashi Koichi, menilai kolaborasi ini bukti nyata kemitraan dua kota yang mendorong pembangunan berkelanjutan, mulai dari pelatihan teknis hingga pemanfaatan teknologi deteksi kebocoran. Sementara Perwakilan JICA, Sato Akira, menegaskan bahwa pengetahuan dan teknologi dari Jepang sudah berhasil diterapkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Makassar.
Kepala BPBPK Sulsel, Baskoro Elmiawan, menambahkan, pelatihan dan peralatan dari MaKaPro sudah membentuk sistem pengelolaan kebocoran yang lebih responsif dan sistematis. Ia berharap PDAM Makassar bisa menjadi pusat pelatihan bagi PDAM di wilayah timur Indonesia.
Sekretaris Bappelitbangda Sulsel, Drs. Andi, menekankan pentingnya keberlanjutan pelatihan agar manfaatnya menyebar ke daerah lain di Sulawesi Selatan.
Dr. Hamzah Ahmad, Plt Direktur Utama PDAM Makassar, melaporkan bahwa sejak pelatihan dijalankan, NRW turun dari 52 persen menjadi 45 persen hanya dalam tiga bulan terakhir.
Penurunan ini berdampak langsung pada perbaikan layanan ke sekitar 5.000 sambungan rumah dan meningkatkan pendapatan hingga Rp2,5 miliar. Hamzah juga menyebut, peserta pelatihan MaKaPro akan menjadi pelatih internal untuk PDAM lain di kawasan sekitar.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa kerja sama ini adalah langkah nyata dalam membangun tata kelola air bersih yang efisien dan berkelanjutan.
Ia berharap keberhasilan MaKaPro tidak berhenti di sini, tetapi juga bisa diterapkan ke sektor layanan publik lainnya. Munafri optimis Makassar dapat menjadi kota percontohan pengelolaan air bersih di Indonesia.
Penulis: Ardhi







