Lintaskabar.id, Tel Aviv — Iran melancarkan serangan balasan yang menyebabkan ribuan warga Israel terluka sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026. Data tersebut disampaikan Kementerian Kesehatan Israel.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dilaporkan Anadolu Agency, Ahad (22/3/2026), Iran mencatat 4.564 warga Israel terluka sejak merespons agresi Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026.

Selain itu, sebanyak 124 orang masih menjalani perawatan, termasuk 13 dalam kondisi serius. Dalam 24 jam terakhir, serangan Iran juga membuat 303 warga harus dilarikan ke rumah sakit.

Rudal Hantam Arad dan Dimona

Selanjutnya, pada Sabtu (21/3/2026), Iran menembakkan rudal ke Kota Arad dan Dimona sehingga menambah jumlah korban.

Menurut MDA, serangan di Arad melukai 118 warga, sedangkan di Dimona sedikitnya 64 orang mengalami luka.

Kemudian, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir meninjau langsung lokasi terdampak di Arad.

Warga Protes di Lokasi

Namun demikian, kunjungan tersebut memicu protes dari warga. Seorang perempuan Israel langsung mengonfrontasi Ben-Gvir dan menyalahkannya atas situasi yang terjadi.

Perempuan itu meneriakkan, “Nazi Yahudi”. “Anda hanya membawa kematian. Anda tidak ada urusan di sini. Tinggalkan kota saya,” ujar perempuan tersebut.

Setelah itu, aksi tersebut viral di media sosial. Ben-Gvir dikenal sebagai tokoh sayap kanan yang kerap melontarkan pernyataan kontroversial, terutama terkait Palestina.

Konflik Berawal dari Serangan ke Iran

Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel lebih dulu melancarkan serangan ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.

Sejak saat itu, Iran terus melancarkan serangan balasan dengan menargetkan fasilitas militer dan diplomatik AS di Timur Tengah, termasuk wilayah Israel. (Zi/*)