Lintaskabar.id, Opini – Dahulu, masyarakat melantunkan takbir dengan berjalan kaki saat listrik dan pengeras suara belum merata. Mereka berjalan menyusuri kampung dengan obor, melafalkan nama Tuhan dengan tenang.
Anak-anak mengikuti sambil menabuh bambu kecil sebagai irama. Masyarakat menjadikan takbiran sebagai perjalanan spiritual tanpa kebisingan. Yang terdengar hanya gema takbir yang lebih terasa di dada daripada di telinga.
Pergeseran Makna di Era Modern
Seiring waktu, masyarakat mengubah cara bertakbir. Kendaraan dan teknologi menghadirkan konvoi di jalan raya.
Awalnya, konvoi lahir dari niat baik. Namun, praktik ini kemudian berubah menjadi kebisingan. Klakson bersahutan, knalpot meraung, dan jalan menjadi panggung euforia.
Akibatnya, takbir sering tenggelam di tengah suara mesin. Di sinilah muncul pertanyaan apakah takbiran masih berfokus pada Tuhan atau sekadar pada keramaian.
Kebijakan Demi Ketertiban
Pemerintah Kota Makassar melarang konvoi kendaraan saat malam takbiran dan mengarahkan masyarakat melaksanakan takbiran di masjid dan mushalla.
Kebijakan ini bertujuan menjaga keselamatan dan ketertiban. Jalan raya merupakan ruang bersama, bukan hanya ruang ekspresi.
Selain itu, konvoi kerap memicu risiko kecelakaan dan kekhawatiran keluarga.
Kembali ke Esensi Takbir
Larangan ini mengajak masyarakat kembali ke esensi takbir. Masyarakat perlu kembali ke masjid dan ruang ibadah yang lebih khidmat.
Takbir bukan soal seberapa jauh terdengar, tetapi seberapa dalam meresap.
Apa arti takbir yang menggema jauh jika tidak menyentuh hati
Apa arti konvoi panjang jika tidak mengubah sikap
Bukankah kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri
Sunyi yang Lebih Bermakna
Sering kali, masyarakat menganggap keramaian sebagai makna. Padahal, tidak semua yang riuh bernilai.
Sebaliknya, takbiran di masjid justru menghadirkan kekhidmatan. Di sanalah manusia mengakui kebesaran Tuhan dengan tulus.
Tradisi dan Perubahan
Konvoi kendaraan mungkin pernah relevan. Namun dalam kondisi saat ini yang padat dan berisiko, tradisi tersebut kehilangan konteks.
Karena itu, menghentikan konvoi menjadi upaya menjaga makna takbir agar tidak tenggelam dalam euforia.
Takbir sebagai Perjalanan Batin
Pada akhirnya, takbiran bukan tentang suara paling keras, tetapi tentang ketulusan hati.
Takbir tidak membutuhkan jalan raya. Takbir membutuhkan ruang di dalam diri.
Dan mungkin, ruang itu yang terlalu lama kita abaikan.
Oleh: Mustamin Raga






