MAKASSAR — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dikabarkan sedang mengkaji rencana pendudukan penuh wilayah Palestina. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menolak berkomentar tentang kemungkinan Israel mengambil alih Jalur Gaza.
“Kami sedang membantu penyaluran bantuan di sana, tapi untuk urusan lain saya tidak bisa bicara banyak. Itu keputusan Israel,” kata Trump kepada wartawan, dikutip dari Reuters, Rabu (6/8).
Trump juga menyebut Israel bersama negara-negara Arab berperan dalam distribusi bantuan pangan dan dana ke Gaza, yang kini mengalami krisis kemanusiaan akibat blokade dan serangan militer berkepanjangan.
Pernyataan ini muncul setelah media melaporkan Netanyahu mengadakan rapat tertutup dengan pejabat keamanan Israel dan mendukung pengambilalihan militer penuh atas Gaza. Langkah tersebut memicu kekhawatiran akan aneksasi de facto seluruh wilayah Palestina.
Sebelumnya, Trump pernah mengusulkan agar AS mengambil alih kendali Gaza setelah konflik, namun ide ini langsung menuai kecaman dari komunitas internasional, termasuk negara Arab, PBB, para pakar HAM, dan warga Palestina sendiri.
Konteks Krisis Gaza
Serangan Israel yang berlangsung hampir dua tahun di Jalur Gaza telah menewaskan puluhan ribu warga sipil, menciptakan krisis kelaparan, dan membuat hampir seluruh penduduknya mengungsi. Israel kini menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) dan kejahatan perang di Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Israel menolak tuduhan tersebut, mengklaim operasinya merupakan respons atas serangan Hamas Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang Israel dan menyandera lebih dari 250 lainnya.
Rencana Netanyahu ini dinilai berisiko memperburuk situasi regional dan memperkuat tudingan internasional terhadap Israel. Sikap diam Trump terhadap rencana Israel juga dianggap dapat melemahkan posisi diplomasi AS dalam upaya penyelesaian konflik dan penegakan hukum internasional.
Penulis: Zulkifli







