JAKARTA — Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang mengguncang Indonesia sejak tahun lalu masih terus berlanjut hingga pertengahan 2025.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Data Partai Buruh dan Koalisi Serikat Pekerja mencatat, sekitar 70.000 pekerja kehilangan pekerjaan dari Januari hingga Mei 2025.

Sejumlah perusahaan besar terpaksa menghentikan operasi atau mengurangi jumlah tenaga kerja akibat berbagai tekanan ekonomi dan iklim usaha yang tidak kondusif.

Survei Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) pada Maret 2025 menunjukkan bahwa:

65% perusahaan mempertimbangkan PHK akibat penurunan permintaan

43,4% terdampak kenaikan biaya produksi

33,2% terbebani regulasi ketenagakerjaan dan upah minimum

21,4% kalah bersaing dengan produk impor

20,9% terdampak otomatisasi dan adopsi teknologi.

Untuk merespons situasi ini, pemerintah membentuk Satgas PHK guna mengoordinasikan penanganan krisis tenaga kerja.

Selain itu, disiapkan program pendampingan bagi korban PHK, mulai dari pelatihan kerja, fasilitasi wirausaha, hingga perluasan lapangan kerja.

Kementerian Ketenagakerjaan juga menegaskan komitmennya dalam menjamin hak-hak buruh, termasuk pembayaran pesangon dan pencairan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).

Daftar Perusahaan yang Melakukan PHK Massal Januari–Mei 2025

1. PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex)

Dinyatakan pailit pada 1 Maret 2025, Sritex menghentikan produksi dan mem-PHK 11.025 karyawan.

PT Sritex Sukoharjo: 8.504 karyawan

PT Primayuda Mandirijaya: 956 karyawan

PT Sinar Pantja Djaja: 40 karyawan

PT Bitratex Industries: 104 karyawan

2. PT Sanken Indonesia

Menutup pabrik di Cikarang, Bekasi, setelah keputusan dari induk perusahaan di Jepang. 457 karyawan terdampak PHK.

3. PT Yamaha Music Product Asia (YMPA)

Mengakhiri operasional di Indonesia akhir Maret 2025. Produksi dipindah ke China dan Jepang. 1.100 karyawan terkena PHK.

4. PT Bapintri (Mbangun Praja Industri)

Pabrik tekstil di Cimahi mem-PHK 267 buruh akibat kesulitan finansial.

5. PT Danbi Internasional

Produsen bulu mata palsu asal Garut dinyatakan pailit Februari 2025. Sebanyak 2.079 pekerja kehilangan pekerjaan dan masih menunggu kejelasan hak-haknya.

6. PT Tokai Kagu Indonesia

Menutup pabrik furnitur di Bekasi dan merelokasi produksi ke luar negeri. 195 karyawan terkena PHK.

7. PT Victory Ching Luh

Berdasarkan data Disnakertrans Banten, 2.000 karyawan sedang dalam proses pemutusan hubungan kerja.

PenulisZulkifli