OPINI—Pernahkah Anda mendengar bahwa sebuas-buasnya singa, ia tetap menyayangi anaknya? Bahkan, singa adalah salah satu binatang yang sangat “family animal.” Konon, ia termasuk makhluk yang paling menyayangi keluarganya. Singa juga dikenal sebagai hewan yang sangat “sociable” karena lebih suka hidup berkelompok. Tapi sudahlah, saya khawatir jika pembahasan tentang singa ini berlanjut, Anda akan menimpali bahwa sehebat-hebatnya singa, ia tetap bisa berada di sirkus—artinya tetap dapat dipermainkan oleh manusia.
Makna dari ini semua adalah bahwa mencintai merupakan bagian dari kesejatian setiap ciptaan. Cinta adalah milik semua makhluk. Mencintai keluarga, mencintai kelompok, mencintai Rasul, hingga mencapai puncaknya—mencintai Sang Pencipta—adalah sesuatu yang sudah terpatri dalam diri. Seorang teman saya yang gemar menggunakan istilah-istilah khusus sering menyebut bahwa cinta ini bersifat inherent, sesuatu yang memang telah ada dalam diri sejak awal.
Karena cinta merupakan sesuatu yang melekat dalam diri, cara mewujudkannya pun beragam, tergantung pada karakter masing-masing individu. Ada yang mengekspresikan cinta secara sangat positif, melakukan apa saja bagi orang yang dicintainya, bahkan rela mengorbankan segalanya demi yang paling dicintai. Ada pula yang terlihat biasa saja, padahal dalam dirinya terpendam perasaan cinta yang dalam. Mereka ini umumnya tidak tertarik pada simbol-simbol cinta.
Sebaliknya, ada pula yang mengekspresikan cinta secara negatif, bahkan ekstrem, sebagai antitesis dari bentuk ekspresi cinta kebanyakan orang. Seorang kawan pernah bercerita bahwa mertuanya, seorang pengusaha besar dan sangat kaya, memiliki kebiasaan unik saat berbagi. Alih-alih menggunakan kata-kata manis, ia justru memakai bahasa kasar. Jika ia mulai memanggil seseorang dengan kata-kata tidak senonoh, itu justru menjadi pertanda bahwa orang tersebut akan menerima sesuatu darinya. Semakin banyak kata-kata kasar yang ia keluarkan, semakin besar rezeki yang ia berikan. Anak buahnya pun sudah paham akan hal ini. Jika mereka sudah lama tidak mendapatkan “bonus,” mereka akan bergurau, “Kapan lagi kita dikatai-katai oleh bos?”
Ekspresi negatif dari cinta juga bisa terlihat dalam kecemburuan. Bukankah orang bilang, cemburu adalah tanda cinta, sementara sikap cuek adalah tanda cinta yang telah pudar? Berbahagialah kita yang masih dicemburui oleh pasangan, karena itu bagian dari cintanya. Sebaliknya, meranalah suami yang mulai diabaikan oleh istrinya, karena bisa jadi itu pertanda “pembiaran”—alias cinta yang telah hilang
Kesejatian cinta bisa semakin mendalam melalui perenungan terhadap cinta yang sering terdistorsi. Misalnya, perilaku saling membenci, minimnya sikap toleran terhadap sesama—bukankah jika dikaji lebih jauh, kebencian bisa jadi merupakan akibat dari cinta yang tidak terkelola dengan cerdas?
Oleh karena itu, jika hati dirasuki kebencian, butuh penawar berupa keheningan. Sebab, dalam keheningan, lahir aktivitas perenungan. Perenungan adalah cara menggali kembali kesejatian diri. Maka, berilah ruang bagi siapa saja yang ingin bermeditasi atau mengosongkan pikirannya, karena di sanalah penggalian diri tengah terjadi.
Tentu, ini tidak termasuk mereka yang mengaku ingin menyepi, tapi justru sibuk “chatting” dengan orang lain. Itu berpotensi disebut sebagai keheningan yang tercemar.
Oleh: Hamdan Juhannis (Rektor UIN Alauddin)







