SIDRAP — Tanaman porang kini menjelma menjadi komoditas unggulan baru di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Berkat inisiatif dan gagasan Bupati H. Syaharuddin Alrif, budidaya tanaman ini yang dulunya kurang diminati, kini menjadi sumber pendapatan bernilai tinggi hingga berhasil menembus pasar ekspor.

Lahan milik pribadi Bupati Syaharuddin di Desa Salomallori, Kecamatan Dua Pitue, menjadi salah satu contoh sukses pengembangan porang berbasis pertanian modern.

Tak hanya ditanam, hasil panen porang juga diolah langsung di gudang pengolahan yang dibangun secara mandiri, hingga siap dikirim ke luar negeri.

“Porang ini bukan sekadar tanaman biasa. Ini adalah bagian dari strategi besar untuk mendorong perekonomian masyarakat. Saya ingin Sidrap tak hanya dikenal karena religiusitasnya, tapi juga karena produktivitasnya,” ujar Syaharuddin saat meninjau proses pengolahan di gudang porang, Kamis (17/4).

Keberhasilan ini tak hanya dirasakan pribadi, tapi juga membawa dampak luas bagi warga sekitar. Puluhan masyarakat kini terlibat dalam proses penanaman, perawatan, panen, hingga pengolahan. Bahkan beberapa petani binaan mulai mengembangkan lahan porang sendiri.

Proses pengolahan porang dilakukan dengan teknologi modern, menghasilkan chip dan tepung glucomannan — bahan penting untuk industri pangan, farmasi, hingga kosmetik. Produk olahan ini kemudian diekspor ke berbagai negara di Asia dan Eropa.

“Dari desa, kita kirim ke dunia. Ini bukti bahwa Sidrap memiliki potensi luar biasa jika dikelola dengan visi yang jelas dan komitmen bersama,” tambah Syaharuddin.

Langkah ini menjadi inspirasi bagi para petani di Sidrap untuk mulai melirik agribisnis berbasis ekspor. Pemerintah Kabupaten pun terus menyiapkan pendampingan, pelatihan teknis, hingga dukungan akses pasar untuk memperluas budidaya porang ke berbagai wilayah.

Kini, Porang Sidrap tak lagi sekadar komoditas pertanian, tapi telah menjadi simbol transformasi ekonomi lokal yang mampu bersaing di pasar global.

Penulis: Natan