Lintaskabar.id, Swiss — Delegasi Iran meninggalkan lokasi perundingan di Swiss setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengancam akan menyerang Teheran.
Kantor berita Iran, IRNA, melaporkan delegasi Iran meninggalkan gedung pertemuan pada Minggu (21/6) setelah bertemu dengan delegasi Qatar yang bertindak sebagai mediator.
“Delegasi Republik Islam Iran meninggalkan gedung tempat negosiasi berlangsung setelah bertemu dengan delegasi Qatar sebagai salah satu pihak mediator,” demikian laporan IRNA.
Menurut IRNA, langkah tersebut terjadi bersamaan dengan pernyataan Trump melalui media sosial X yang kembali menekan Iran.
“Pada saat yang bersamaan dengan dimulainya pembicaraan di Swiss, Donald Trump membuat pesan di media sosial X yang mengulangi ancaman dan pernyataannya terhadap Iran,” tulis IRNA.
Meski meninggalkan lokasi pertemuan, seorang diplomat yang mengetahui jalannya negosiasi menyebut Iran belum keluar dari proses pembicaraan.
“Delegasi Iran tetap terlibat dalam pembicaraan dan belum mengindikasikan kepada para mediator niat untuk pergi,” kata diplomat tersebut kepada AFP.
Trump Desak Iran Hentikan Dukungan ke Hizbullah
Sebelumnya, Trump menyampaikan ancaman melalui unggahan di Truth Social. Ia meminta Iran menghentikan dukungannya terhadap kelompok proksi di Lebanon yang merujuk pada Hizbullah.
Trump memperingatkan AS akan kembali menyerang Iran dengan kekuatan lebih besar jika Teheran tidak menghentikan aktivitas tersebut.
“Iran harus segera menghentikan PROKSI mereka yang dibayar mahal di Lebanon agar tidak menimbulkan masalah. Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan pekan lalu, bahkan lebih keras lagi!!!” tulis Trump.
Menanggapi pernyataan itu, Iran menegaskan siap merespons. Kepala negosiator sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan militer Iran siap menghadapi segala kemungkinan.
“Sebaiknya mereka hati-hati dengan pernyataan mereka. Angkatan bersenjata kami siap menanggapi dengan cara yang berbeda. Apa pun yang mereka katakan, kamilah yang bertindak,” ujar Ghalibaf.
Kesepakatan Damai AS-Iran Masih Menghadapi Tantangan
Sebelumnya, AS dan Iran menyepakati nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni sebagai dasar menuju perjanjian damai kedua negara.
Melalui kesepakatan itu, kedua pihak sepakat menghentikan konflik di sejumlah wilayah, termasuk Lebanon, serta tidak melakukan serangan kembali.
Selain itu, AS dan Iran juga menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz yang sempat ditutup Iran setelah serangan AS-Israel pada 28 Februari.
Namun, Iran kembali menutup jalur strategis tersebut setelah merespons serangan Israel terhadap Hizbullah, sehingga situasi kedua negara kembali menjadi sorotan. (**)







