Lintaskabar.id, Amerika — Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menandatangani perjanjian sementara dengan Iran sebagai langkah awal menghentikan konflik kedua negara. Kesepakatan itu membuka peluang terciptanya gencatan senjata permanen setelah berbulan-bulan ketegangan.
Meski memilih jalur diplomasi, Trump menegaskan AS siap kembali melancarkan operasi militer jika Iran melanggar isi perjanjian.
Trump Resmikan Kesepakatan dengan Iran
Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman secara digital. Pemerintah kedua negara kemudian merilis teks perjanjian yang mulai berlaku pada Rabu (17/6/2026).
Melalui kesepakatan 14 poin tersebut, AS dan Iran sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari sambil melanjutkan perundingan menuju kesepakatan damai permanen.
Trump Ancam Serang Jika Iran Ingkar
Dalam konferensi pers di sela KTT G7 di Prancis, Trump mengingatkan Iran agar mematuhi seluruh isi perjanjian.
“Kita akan membombardir mereka habis-habisan jika mereka melanggar perjanjian. Saya ingin mereka menghormati perjanjian,” kata Trump.
Selain itu, Trump meminta para pejabat Iran menunjukkan itikad baik selama proses negosiasi. Menurutnya, kedua negara harus memanfaatkan masa 60 hari tersebut untuk mencapai perdamaian yang lebih permanen.
Trump Yakin Perdamaian Bisa Tercapai
Di tengah peringatannya, Trump tetap optimistis proses diplomasi akan menghasilkan kesepakatan permanen dalam dua bulan ke depan.
Ia juga menyebut rakyat Iran sebagai “orang-orang cerdas” dan berharap mereka mendukung terciptanya stabilitas kawasan. Selain itu, Trump menilai tidak adil jika Iran sama sekali tidak memiliki rudal balistik, berbeda dari sikap keras yang sebelumnya pernah ia sampaikan.
Perjanjian Masih Bersifat Sementara
Seorang pejabat senior AS menjelaskan bahwa perjanjian tersebut belum bersifat final. Washington dan Teheran masih memiliki kesempatan untuk menarik diri sebelum menyepakati kesepakatan permanen yang mengikat.
Meski begitu, penandatanganan yang dilakukan Trump dan Pezeshkian menjadi sinyal positif bagi kelanjutan proses perdamaian.
Harga Minyak dan Respons Dunia
Pasar global langsung merespons kesepakatan tersebut. Harga minyak dunia sempat turun karena meningkatnya harapan terhadap stabilitas kawasan dan normalnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, harga minyak kembali menguat setelah Trump mengisyaratkan kemungkinan melanjutkan operasi militer jika Iran tidak menjalankan kesepakatan dengan baik.
Sementara itu, momen Trump menandatangani perjanjian sementara AS-Iran menjadi perhatian dunia. Banyak pihak menilai langkah tersebut sebagai awal penting untuk meredakan konflik yang selama ini memicu gejolak ekonomi dan keamanan di Timur Tengah. (**)







