Lintaskabar.id, Opini — Makassar Half Marathon (MHM) 2026 diproyeksikan kembali menarik ribuan pelari dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Ajang olahraga ini diyakini mampu menggerakkan sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, dan UMKM di Kota Makassar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Namun, di balik dampak ekonomi yang ditimbulkan, Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar, Mashud Azikin, mengingatkan pentingnya memperhatikan dampak lingkungan yang berpotensi muncul selama pelaksanaan kegiatan.

Menurut Mashud, penyelenggara dan peserta perlu memastikan bahwa kemeriahan event tidak meninggalkan persoalan ekologis bagi kota pesisir tersebut.

“Makassar hari ini sedang berdiri di sebuah persimpangan moral: apakah olahraga akan menjadi perayaan peradaban, atau justru menambah daftar panjang beban ekologis kota pesisir ini?” tulisnya.

Event Besar Berpotensi Meningkatkan Produksi Sampah

Mashud menilai penyelenggaraan ajang lari berskala besar tidak hanya menghadirkan manfaat ekonomi, tetapi juga berpotensi menghasilkan volume sampah yang signifikan.

Ia menyebut penggunaan gelas plastik, botol minuman, kemasan makanan, hingga berbagai kebutuhan logistik dapat meningkatkan jejak ekologis apabila tidak dikelola secara optimal.

Selain itu, ia menegaskan bahwa ajang lari modern telah berkembang menjadi industri yang melibatkan banyak aktivitas pendukung.

“Road race modern bukan sekadar lomba lari. Ia adalah industri. Ada konsumsi massal, logistik besar, distribusi produk, promosi, dan mobilisasi manusia dalam jumlah luar biasa. Semakin besar event, semakin besar pula jejak ekologinya,” ungkapnya.

Karena itu, ia meminta seluruh pihak memberikan perhatian serius terhadap pengelolaan sampah selama pelaksanaan MHM 2026.

Makassar sebagai Kota Pesisir Hadapi Risiko Lebih Besar

Lebih lanjut, Mashud menyoroti posisi Makassar sebagai kota pesisir yang rentan terhadap pencemaran lingkungan, khususnya sampah plastik.

Menurutnya, sampah yang tercecer di kawasan pesisir seperti Pantai Losari dan CPI dapat dengan mudah terbawa aliran drainase menuju laut ketika hujan turun.

Akibatnya, limbah tersebut berpotensi mengancam ekosistem laut, mulai dari ikan, terumbu karang, hingga kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada sumber daya laut.

“Makassar sebagai kota pesisir sesungguhnya sangat rentan. Sampah plastik yang tercecer di kawasan CPI atau Losari tidak membutuhkan waktu lama untuk masuk ke laut,” katanya.

Etika Lingkungan Harus Menjadi Bagian dari Event

Mashud menekankan bahwa penyelenggaraan kegiatan publik perlu mengedepankan etika lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Menurutnya, etika lingkungan tidak hanya berbicara soal kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga tentang kesadaran bahwa setiap aktivitas manusia memiliki dampak terhadap alam.

“Etika lingkungan bukan sekadar ajakan membuang sampah pada tempatnya. Ia adalah kesadaran moral bahwa manusia tidak hidup sendirian di bumi. Bahwa setiap kenyamanan yang kita nikmati memiliki konsekuensi ekologis,” tulisnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk mulai mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam setiap tahapan pelaksanaan event olahraga.

MHM Berpeluang Jadi Pelopor Green Sport Tourism

Di sisi lain, Mashud melihat MHM 2026 memiliki kesempatan besar menjadi pelopor konsep green sport tourism atau pariwisata olahraga ramah lingkungan di Indonesia Timur.

Ia menilai kesuksesan sebuah event tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah peserta maupun kemegahan acara, tetapi juga oleh kemampuan penyelenggara dalam mengurangi dampak ekologis.

“Makassar Half Marathon memiliki peluang besar menjadi pelopor di Indonesia Timur. Bukan mustahil suatu hari orang datang ke Makassar bukan hanya karena lintasannya indah, tetapi karena event ini dikenal disiplin terhadap lingkungan,” ujarnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, ia mendorong penerapan sistem pemilahan sampah di setiap titik hidrasi, pelibatan relawan lingkungan, serta penggunaan botol minum isi ulang oleh peserta.

Ubah Sampah Menjadi Sumber Daya

Selain itu, Mashud mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap sampah. Menurutnya, banyak orang masih menganggap persoalan sampah selesai ketika limbah tersebut dibuang.

Padahal, sampah tetap menimbulkan dampak di tempat lain apabila tidak dikelola dengan baik.

“Persoalan terbesar kita sebenarnya bukan pada sampah, melainkan cara pandang terhadap sampah,” tulisnya.

Karena itu, ia mendorong penerapan ekonomi sirkular dalam penyelenggaraan MHM 2026. Melalui pendekatan tersebut, berbagai jenis limbah dapat dimanfaatkan kembali sehingga tidak langsung berakhir di tempat pembuangan akhir.

Berlari Tidak Boleh Mengorbankan Lingkungan

Pada bagian akhir tulisannya, Mashud menegaskan bahwa olahraga pada hakikatnya merupakan bentuk penghormatan terhadap kehidupan dan kesehatan.

Karena itu, menjaga lingkungan harus menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang diusung melalui kegiatan olahraga.

“Maka berlari sejatinya bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga tindakan etis. Sebuah pengingat bahwa manusia harus belajar bergerak tanpa merusak,” tulisnya.

Ia berharap Makassar Half Marathon 2026 tidak hanya meninggalkan prestasi dan pengalaman positif bagi peserta, tetapi juga menjadi contoh bagaimana sebuah kota mampu menyelenggarakan event besar secara bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Karena pada akhirnya, manusia mungkin bisa memenangkan lomba lari. Tetapi tanpa etika lingkungan, kita perlahan sedang kalah dalam perlombaan yang jauh lebih besar menyelamatkan masa depan bumi kita sendiri,” pungkasnya.

Oleh: Mashud Azikin (Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar)