Lintaskabar.id, Opini – Assalamualaikum Warahmatullahi Wabaraqaatuh Adinda Prof. Hamdan. Saya menikmati tulisan berseri Adinda bertema Bona Fide. Karena itu, saya mencoba memberi perspektif Biologi terhadap perilaku sosial yang Adinda bahas. Saya mulai dari pertanyaan mengapa ada orang yang selalu berpikir positif, sementara yang lain justru berpikir negatif.
Ragam Perilaku Sosial Terbentuk dari Proses Panjang
Kita melihat ada yang konsisten berperilaku baik, namun ada pula yang kerap berperilaku buruk. Ada yang terperangkap di masa lalu, sedangkan yang lain terobsesi ke masa depan. Bahkan, ada yang berkarakter koruptor, sementara sebagian lainnya murah hati. Para sahabat yang ahli ilmu sosial (sosiolog) seperti Adinda tentu dapat menjelaskan perilaku sosial sebagai hasil interaksi dua atau lebih individu dalam sistem sosial yang kompleks melalui proses evolusi dan adaptasi yang panjang.
Social Brain Mengatur Perilaku Sosial dalam Tubuh
Secara biologis, otak mengatur proses perilaku sosial. Bagian ini dikenal sebagai “social brain”. Otak bagian depan (prefrontal) menjadi komponen utama yang bertumbuh semakin besar dibandingkan nenek moyang kita ratusan atau puluhan ribu tahun lalu. Proses evolusi dan adaptasi terhadap lingkungan sosial, fisik, serta teknologi yang makin kompleks mendorong perubahan tersebut.
Daerah prefrontal mengatur fungsi luhur. Sementara itu, amigdala menjadi bagian lain yang ukurannya semakin kecil dibandingkan nenek moyang kita. Komponen ini mengatur perilaku primitif seperti makan/minum, tidur, hubungan seksual, dan mempertahankan diri.
Peradaban Ubah Keseimbangan Prefrontal dan Amigdala
Kita menyebut perilaku itu primitif karena sifatnya sudah ada sejak dahulu kala dan muncul pada semua makhluk yang memiliki perilaku sosial, termasuk hewan. Seiring peradaban berkembang, amigdala mengecil, sedangkan prefrontal membesar.
Serabut Saraf Bentuk Respons Sosial yang Lebih Kompleks
Jutaan serabut saraf menghubungkan kedua bagian otak utama tersebut dengan bagian otak lain. Keterhubungan ini memungkinkan seseorang merespons perilaku sosial yang kompleks, seperti memahami pendapat dan perasaan orang lain, berempati, merasakan kasih sayang, serta membangun ikatan sosial. Maaf, saya kedatangan tamu.
Prefrontal Menjadi Pusat Niat dan Kendali Tindakan
Hal paling mendasar yang mendorong seseorang melakukan sesuatu adalah niat. Bagian prefrontal otak berperan sebagai pusat niat yang mengatur fungsi kognitif dan emosional. Pusat ini mengendalikan tindakan yang dilakukan dengan kesadaran dan perencanaan. Sementara itu, bagian otak lain mengatur tindakan yang terjadi secara otomatis.
Jeda Niat dan Tindakan Buka Ruang Moral Etik dan Spiritual
Pusat yang mengatur niat berada pada satu lokasi dengan yang mengatur tindakan motorik atau gerakan. Namun, otak menghadirkan jeda waktu antara niat dan tindakan. Pada jeda inilah moral, etik, dan spiritual berperan sebagai “rem” yang menahan atau mengarahkan tindakan.
Resep Mengatur Jeda Sebelum Merespons
Karena itu, saya menawarkan cara sederhana untuk meredam niat dan keinginan, yaitu mengatur jeda sebelum merespons. Jika ingin mengomentari pendapat orang yang lebih muda, hitung dulu sampai 30. Jika dengan orang yang seusia, hitung sampai 50. Jika dengan orang yang lebih tua, senior, atau atasan, hitung sampai 100 sebelum menjawab atau menyampaikan pendapat. Kalau dengan istri, hitung terus tidak usah menjawab atau menyampaikan pendapat. Kalau istri kepada suami, bicara/jawab terus, tidak usah hitung he… he… he…
Bona Fide (14): Surat dari Prof. Irawan Yusuf
(Guru Besar Fisiologi, Fak. Kedokteran, Unhas).
Penulis:Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis






