MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan pesan inspiratif kepada ribuan wisudawan Universitas Negeri Makassar (UNM) dalam acara wisuda pada Kamis (21/8).
Di hadapan lebih dari 1000 lulusan, Munafri menegaskan bahwa prosesi wisuda bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah titik awal untuk memulai perjalanan panjang dalam menentukan masa depan.
“Seringkali orang berpikir bahwa setelah wisuda, segalanya selesai. Namun, menurut pengalaman saya, wisuda justru merupakan permulaan,” ungkap Munafri.
Dalam kesempatan tersebut, Munafri mengenang masa studinya di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Ia menyebut dirinya dengan rendah hati sebagai Mapala (Mahasiswa Paling Lama). Memulai kuliah pada tahun 1993, ia baru menyelesaikan studinya pada tahun 1999.
“Saya wisuda pada tanggal yang cantik, 9 September 1999. Itu adalah momen yang sangat membanggakan bagi orang tua saya,” kenangnya.
Munafri juga menceritakan perjalanan kuliah yang penuh perjuangan. Sejak semester dua, ia tidak lagi menerima bantuan biaya kuliah dari orang tuanya. Dengan biaya kuliah Rp90.000 per semester, ia bekerja keras di berbagai tempat, termasuk sebagai penyiar radio, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Selama masa kuliah, saya sempat ingin meninggalkan semuanya. Bahkan, saya pernah kabur ke Surabaya dan hampir berhenti kuliah. Namun, setelah berpikir panjang, saya memutuskan untuk kembali dan menyelesaikan kuliah saya,” ujarnya.
Ia juga menyinggung tentang situasi reformasi saat itu yang mendorong banyak mahasiswa untuk turun ke jalan daripada berada di ruang kelas, namun dirinya tetap mampu menyelesaikan pendidikan.
“Alhamdulillah, saya berdiri di hadapan kalian hari ini sebagai Wali Kota Makassar berkat perjuangan dan tekad yang tidak pernah padam,” lanjutnya.
Di akhir sambutannya, Munafri mengingatkan para wisudawan agar tidak cepat merasa puas. Wisuda adalah langkah awal untuk meraih kesuksesan yang lebih besar.
“Masa depan ada di tangan kita. Hanya dengan kerja keras, ketekunan, dan doa orang tua, kita dapat meraih sukses,” ungkap Ketua IKA FH Unhas itu.
Dalam kesempatan yang sama, Munafri memaparkan tujuh program unggulan yang akan menjadi fokus pemerintahannya untuk periode 2025–2030. Program-program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan mendorong transformasi Makassar menjadi kota yang lebih maju dan berdaya saing.
Program unggulan tersebut, menurut Munafri, adalah hasil dari aspirasi masyarakat yang dikumpulkan sejak masa kampanye hingga awal kepemimpinannya.
“Program ini bukan sekadar janji politik, melainkan komitmen nyata untuk kesejahteraan warga Makassar. Program-program ini adalah mandat rakyat dan akan kita jalankan dengan penuh tanggung jawab,” jelas Munafri.
Adapun tujuh program unggulan Pemkot Makassar yang dipaparkan Munafri antara lain:
- Seragam gratis untuk siswa baru tingkat SD dan SMP.
- Penyediaan sambungan PDAM gratis yang kini tengah diperluas untuk melayani warga yang belum mendapatkan akses air bersih.
- Jaminan sosial untuk pekerja rentan yang mencakup jaminan keselamatan kerja dan jaminan kematian, bekerja sama dengan BPJS.
- Pembangunan stadion baru untuk pecinta sepak bola di Makassar.
- Super Apps atau Lontara+, aplikasi layanan publik yang mengintegrasikan berbagai kebutuhan masyarakat.
- Program pengelolaan sampah, termasuk iuran sampah gratis yang telah dimulai sejak Juli lalu.
- Penguatan kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah untuk memastikan pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan warga.
Munafri menambahkan, implementasi program-program tersebut akan melibatkan partisipasi aktif dari warga, akademisi, dunia usaha, dan semua pihak terkait.
“Kolaborasi semua pihak akan memastikan Makassar menjadi kota yang tidak hanya nyaman ditinggali, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan baru di kawasan timur Indonesia,” tutupnya.
Di akhir acara, dilakukan penandatanganan MoU antara Pemkot Makassar dan UNM.
Penulis: Ardhi







