JAKARTA — Politikus Gerindra, La Tinro La Tunrung mengkritik keras pengeluaran anggaran sebesar Rp 6 triliun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang dinilai tidak efektif.
Kritikan ini muncul setelah data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 yang dirilis BPS, yang menunjukkan angka 5,12%, dipertanyakan banyak pihak karena dinilai tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya dirasakan oleh masyarakat.
Dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, La Tinro menyatakan keprihatinannya.
“BPS menghabiskan Rp 6 triliun hanya untuk menghasilkan data yang salah. Ini tidak ada gunanya sama sekali,” ujar La Tinro dengan tegas, baru-baru ini.
Anggota Komisi VI DPR RI itu menambahkan bahwa data yang disajikan BPS jauh dari proyeksi ekonom dan tidak sesuai dengan realitas yang dialami masyarakat.
La Tinro juga mengingatkan BPS tentang dampak dari data yang keliru, yang bisa berujung pada kebijakan pemerintah yang salah.
“Jika data salah, bisa menyebabkan kebijakan pemerintah yang salah. Ini masalah besar,” tandasnya.
Bukan hanya La Tinro, anggota DPR lainnya juga memberikan sorotan. Namun, kritik tajam dari La Tinro menjadi sorotan utama, karena dia dengan berani meminta penjelasan lebih mendalam terkait penggunaan anggaran yang besar ini, yang tidak membuahkan hasil yang diharapkan.
BPS pun berusaha menjelaskan bahwa mereka hanya menyajikan data berdasarkan survei dan variabel yang terkumpul, dan bukan proyeksi.
Meskipun demikian, usulan tambahan anggaran sebesar Rp 1,65 triliun untuk tahun 2026 pun disampaikan untuk mendukung kelanjutan kegiatan statistik yang belum teranggarkan.
Namun, keputusan final terkait anggaran ini masih dalam pembahasan lebih lanjut oleh Komisi X DPR.
Penulis: Amriadi







