MAKASSAR — Pengamat Ekonomi Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Lukman Setiawan menilai program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah dapat menjadi strategi efektif memperkuat ekonomi desa berbasis gotong royong.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menurutnya, koperasi ini hadir dengan sumber permodalan yang cukup kuat. Selain simpanan pokok dan wajib dari anggota, pemerintah juga menyiapkan skema pinjaman melalui Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) seperti BRI, Mandiri, dan BNI dengan plafon hingga Rp3 miliar.

Tak hanya itu, akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp300 triliun turut diproyeksikan untuk menopang usaha koperasi di pedesaan.

“Dengan dukungan permodalan yang jelas, koperasi bisa menjadi offtaker hasil pertanian sekaligus menjaga stabilitas pendapatan petani,” ungkap Lukman, Jumat (26/9).

Ia menyebut, keberadaan Koperasi Merah Putih berpotensi membawa tiga dampak besar: meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengentaskan kemiskinan, dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Lebih lanjut, Lukman menilai koperasi ini bisa menjadi solusi terintegrasi bagi perekonomian desa. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal, tetapi juga manajemen pengelolaan yang profesional.

“Dulu program koperasi pernah dijalankan sejak era Orde Baru, tapi persoalannya ada pada manajemen. Sekarang dibutuhkan SDM yang mumpuni serta sistem pengelolaan berbasis IT, khususnya dalam laporan keuangan dan transparansi,” tegasnya.

Jika dikelola dengan baik, Lukman optimistis Koperasi Merah Putih dapat mewujudkan prinsip koperasi yang ideal yakni menghadirkan kesejahteraan nyata bagi seluruh anggotanya.

Penulis: Amriadi