JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) menetapkan garis kemiskinan per Maret 2025 sebesar Rp609.160 per kapita per bulan.
Scroll Untuk Lanjut Membaca
Angka ini mencerminkan batas minimum pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non-makanan agar seseorang tidak digolongkan miskin.
Namun, ukuran kemiskinan tidak hanya ditentukan oleh garis resmi tersebut. Sejumlah faktor lain kerap digunakan untuk menggambarkan posisi finansial masyarakat. Mengutip GoBankingRates, berikut lima indikator utama yang sering mencerminkan kondisi ekonomi rumah tangga:
- Kondisi Tempat Tinggal
Perumahan menjadi salah satu komponen biaya terbesar. Jika seseorang masih kesulitan memperoleh hunian layak, aman, dan nyaman, hal ini biasanya menunjukkan keterbatasan daya beli dan menandakan posisi ekonomi yang lebih rendah. - Jenis Pekerjaan
Pekerjaan sangat menentukan posisi finansial. Profesi dengan gaji rendah, kontrak sementara, atau keterampilan minim umumnya lebih rentan secara ekonomi, seperti buruh pabrik, pegawai ritel, atau pekerja kebersihan. Sebaliknya, posisi manajerial atau spesialis cenderung lebih stabil secara finansial. - Tabungan dan Investasi
Aset finansial seperti tabungan, dana darurat, maupun investasi jangka panjang menjadi penopang penting. Ketiadaan simpanan atau rencana pensiun biasanya menjadi tanda rapuhnya kondisi ekonomi seseorang. - Pola Konsumsi dan Gaya Hidup
Kemampuan menikmati hiburan, liburan, atau membeli barang baru tanpa beban berlebih pada anggaran menunjukkan adanya kelonggaran finansial. Jika aktivitas sederhana ini terasa sulit dijangkau, kondisi tersebut bisa mencerminkan keterbatasan daya beli. - Akses Pendidikan
Latar belakang pendidikan sering berkorelasi dengan peluang ekonomi. Gelar sarjana, misalnya, membuka jalan ke pekerjaan dengan penghasilan lebih baik. Sebaliknya, jika biaya kuliah terlalu berat untuk ditanggung, ini menjadi salah satu penanda keterbatasan finansial.
Penulis: Amriadi







