NASIONAL — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka melemah signifikan pada awal perdagangan hari ini, Senin (23/6).
IHSG terkoreksi sebesar 1,07% atau turun 73,66 poin ke posisi 6.833,47. Tercatat 64 saham menguat, 279 saham melemah, dan 225 tidak mengalami perubahan. Nilai kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp 11.996,25 triliun.
Tak lama berselang, IHSG semakin tertekan hingga anjlok lebih dari 2%. Pada pembukaan sesi, nilai transaksi sudah mencapai Rp 335 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 512 juta saham dalam 35.387 transaksi.
AS Serang Iran, Geopolitik Memanas
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa militer AS telah melancarkan serangan terhadap tiga lokasi fasilitas nuklir Iran, yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan pada Sabtu malam (21/6) waktu setempat.
Mengutip Reuters, Trump menyebut operasi yang dilakukan menggunakan pesawat pengebom B-2 itu sebagai “sangat sukses”. Serangan ini telah dipertimbangkan selama beberapa hari sebelumnya.
Masuknya AS dalam konflik memperkeruh situasi geopolitik global, yang berpotensi menyeret kekuatan besar lainnya seperti Rusia, China, dan negara-negara Eropa.
Iran Balas, Parlemen Setujui Penutupan Selat Hormuz
Menanggapi serangan tersebut, Parlemen Iran dikabarkan menyetujui usulan untuk menutup Selat Hormuz, jalur vital untuk distribusi minyak global.
Laporan Press TV menyebut keputusan final masih menunggu Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Selat Hormuz yang memisahkan Iran dan Oman merupakan jalur krusial pengangkutan minyak dari kawasan Teluk Persia. Sekitar 20% pasokan minyak dunia dan 30%-35% LNG global melewati wilayah ini. Selain itu, Laut Merah juga menjadi jalur penting dengan kontribusi sekitar 12% minyak dan 6% LNG dunia.
Blokade selat ini diproyeksi berdampak besar terhadap harga minyak dunia. Macquaite memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga US$ 240 per barel jika 15 juta barel per hari terganggu. Bloomberg memperkirakan harga bisa mencapai US$ 130 per barel dan inflasi tahunan AS bisa melonjak ke 3,9%.
Menurut Goldman Sachs dan Rapidan Energy, harga minyak berpotensi melewati US$ 100 jika penutupan berlangsung lama. Kenaikan harga ini dapat memperburuk inflasi global dan memperlambat prospek penurunan suku bunga, yang membuat suku bunga tinggi bisa bertahan lebih lama.
Sejak pecahnya konflik Iran-Israel pada 13 Juni 2025, harga minyak dunia sudah naik 11%.
Data Ekonomi AS dan Pidato Powell Jadi Sorotan
Selain memanasnya konflik di Timur Tengah, investor juga mencermati sejumlah agenda penting dari Amerika Serikat. Di antaranya rilis data ekonomi dan pidato Ketua The Fed, Jerome Powell.
Data penting yang ditunggu adalah Core PCE (Personal Consumption Expenditures) bulan Mei, indikator inflasi favorit The Fed, yang akan dirilis Kamis (26/6).
Jika data menunjukkan inflasi masih tinggi, maka peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin kuat, memicu aliran dana keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Pada hari yang sama, pemerintah AS juga akan merilis estimasi ketiga pertumbuhan PDB kuartal I/2025.
Powell sendiri dijadwalkan menyampaikan Laporan Kebijakan Moneter Semesteran kepada Kongres pada Selasa dan Rabu. Ia akan berbicara di hadapan House Financial Services Committee dan Senate Committee on Banking, Housing, and Urban Affairs.
Pasar sangat menantikan arah kebijakan The Fed berikutnya, apalagi setelah suku bunga tetap tidak berubah namun disertai sikap yang lebih pesimistis terhadap potensi penurunan di masa mendatang.
Kode Domisili Bursa Akan Dibuka Kembali Juli 2025
Dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan angin segar dengan rencana pembukaan kembali kode domisili secara parsial mulai Juli 2025.
Sejak Juni 2022, data domisili hanya dapat dilihat setelah pasar tutup. Namun, BEI akan mulai membukanya kembali pada akhir sesi I perdagangan. Hal ini akan memberi keuntungan bagi trader dalam membaca arah dana investor baik lokal maupun asing secara lebih real-time.
Kebijakan ini juga diharapkan dapat meningkatkan transparansi serta likuiditas pasar. Selain kode domisili, BEI juga berencana membuka kembali kode broker, serta mempertimbangkan pengurangan jumlah lot saham dari 100 lembar per lot.
Penulis: Natan







