MAKASSAR — Setahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum penting bagi Kementerian Agama (Kemenag) dalam menghadirkan kehidupan beragama yang lebih inklusif, produktif, dan menyejahterakan.
Di bawah kepemimpinan Menteri Agama Nasaruddin Umar, Kemenag berkomitmen menerjemahkan Asta Cita ke dalam langkah nyata: menjaga kerukunan sebagai prasyarat pembangunan, memperkuat pendidikan keagamaan, dan meningkatkan kesejahteraan para pendidik agama.
“Asta Cita bukan sekadar rencana politik, tetapi arah moral bangsa. Kami ingin nilai agama tidak berhenti di mimbar, melainkan hidup dalam kebijakan yang memuliakan manusia,” ujar Menag Nasaruddin Umar dalam refleksi satu tahun perjalanan Kemenag mengawal Asta Cita, di Jakarta, Selasa (21/10).
Kemenag menempatkan kerukunan sebagai fondasi utama dalam mengawal Asta Cita, khususnya cita ke-8 yang menekankan harmoni sosial dan toleransi. Bagi Kemenag, kerukunan bukan sekadar toleransi, melainkan syarat utama agar pembangunan dapat berjalan kokoh.
Dalam satu tahun terakhir, Kemenag mengembangkan sistem Si-Rukun (Early Warning System) untuk mendeteksi potensi konflik keagamaan sejak dini. Aplikasi ini dioperasikan oleh para penyuluh agama yang menjadi garda terdepan di lapangan.
Pengembangan Si-Rukun merupakan kolaborasi lintas Ditjen Bimas dan Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB). Sistem ini berbasis penelitian yang memetakan potensi konflik di berbagai wilayah, lengkap dengan kategori zona merah, kuning, dan hijau.
Sebanyak 500 penyuluh agama di KUA telah dilatih menjadi aktor resolusi konflik. Selain itu, 300 penyuluh agama dibina dalam pemetaan masalah sosial-keagamaan, 600 penceramah diperkuat dalam literasi digital dan dakwah moderat, serta 200 dai muda dikader untuk berdakwah kontekstual dan mandiri.
Melalui Akademi Kepemimpinan Mahasiswa Nasional (Akminas), Kemenag juga melahirkan 1.192 kader lintas agama berjiwa kepemimpinan plural. Upaya deradikalisasi dilakukan dengan merekonstruksi 25 pesantren eks-Jamaah Islamiyah yang menaungi 5.077 santri.
“Kerukunan adalah prasyarat pembangunan. Indonesia hanya bisa maju bila umatnya damai dan memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat,” tegas Menag.
Hasil survei Poltracking Indonesia turut menguatkan hal ini. Pemerintah Prabowo–Gibran mendapat tingkat kepuasan publik tertinggi dalam menjaga kerukunan antarumat beragama (86,7%), menjaga kehidupan keagamaan (80,2%), dan menjaga persatuan bangsa (77,1%)
Dalam semangat pemerataan kesejahteraan, Kemenag aktif mendukung dua program nasional: Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Sebanyak 1.373.761 siswa madrasah dan 337.442 santri pesantren telah menikmati MBG, sementara lebih dari 12,5 juta siswa dari madrasah dan lembaga pendidikan berbagai agama menerima layanan CKG.
Selain itu, Kemenag membantu 4.450 UMKM melalui pembiayaan tanpa bunga (qardul hasan) lewat program Masjid Berdaya dan Berdampak (MADADA), serta melatih 1.350 takmir masjid dalam pengelolaan ekonomi berbasis masjid.
Untuk memperkuat ketahanan keluarga, 17.266 pasangan nikah mendapatkan bimbingan keluarga di berbagai agama.
“Inilah makna dakwah sosial. Ajaran agama harus hadir di ruang publik—melalui berbagi makanan, menjaga kesehatan, dan memperkuat keluarga,” ujar Menag.
Peningkatan Kesejahteraan Guru dan Dosen Perhatian Presiden Prabowo terhadap kesejahteraan pendidik diwujudkan melalui kenaikan tunjangan profesi guru non-P.
Penulis: Zulkifli







