Lintaskabar.id, Makassar – Upaya penanganan darurat sampah plastik di Kota Makassar terus bergerak dari tingkat akar rumput. Salah satu terobosan datang dari Kelurahan Tompobalang, Kecamatan Bontoala, melalui inovasi alat penyulingan yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) hingga 50 kilogram per hari.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Inovasi Lahir dari Tompobalang

Darwin, pemuda asal Tompobalang, bersama timnya mengembangkan alat penyulingan tersebut. Benny sebagai sponsor membiayai sekaligus memfasilitasi pengadaan alat itu.

Ketua Komunitas Hijau Apresiasi Karya Anak Muda

Ketua Forum Komunitas Hijau Makassar, Ahmad Yusran, meninjau langsung proses kerja alat tersebut dan menyampaikan apresiasinya.

“Saya sangat mengapresiasi apa yang menjadi inovasi karya anak Kelurahan Tompobalang, Kecamatan Bontoala, di mana telah menemukan sebuah inovasi yaitu alat yang mengolah limbah plastik menjadi energi,” kata Ahmad Yusran di tempat penyulingan, Ahad (18/1/2026).

Jawaban atas Darurat Sampah Plastik

Ahmad Yusran menilai inovasi ini menjadi jawaban atas krisis limbah nonorganik di Makassar, terutama sampah plastik yang sulit terurai.

“Kota Makassar ini sudah darurat limbah, khususnya tidak organik saja, plastik,” ujarnya.

Dari Limbah Menjadi Energi

Ia menjelaskan, alat tersebut memanfaatkan sampah plastik dan oli bekas sebagai bahan baku, lalu memprosesnya melalui tungku penyulingan hingga menghasilkan energi.

“Jadi manfaatnya ini dari limbah ke limbah. Bahan bakunya saya melihat ada yang namanya oli bekas, dijadikan bahan bakar, lalu dimasukkan ke dalam tungku, lalu hasil penyulingannya menjadikan sebuah energi,” jelasnya.

Butuh Pendampingan Berkelanjutan

Menurut Ahmad Yusran, inovasi ini memerlukan pendampingan agar bisa berkembang dan diterapkan lebih luas.

“Hal ini adalah sebuah inovasi atau temuan yang memang membutuhkan pendampingan-pendampingan. Kami sebagai LSM lingkungan hidup ikut terus memberikan penguatan-penguatan, tidak hanya secara ilmiah, tapi juga secara praktik,” tuturnya.

Pengolahan Limbah Harus Berkeadilan

Ia menegaskan, pengelolaan limbah harus memperhatikan keadilan bagi lingkungan dan masyarakat.

“Pengolahan limbah itu pada prinsipnya adalah berkeadilan. Tidak hanya kepada ekologi, tapi bagaimana keberlangsungan masyarakat yang ada di Kecamatan Bontoala dan secara umum Kota Makassar,” katanya.

Sponsor Fokus Kurangi Sampah Plastik

Benny menegaskan bahwa tujuan utama pembuatan alat ini bukan pada hasil BBM, melainkan pada upaya mengurangi sampah plastik di Makassar.

“Kami membuat alat ini untuk mengurai sampah plastik. Fokus kami saat ini bagaimana kami bisa berkontribusi untuk mengurai sampah plastik yang merupakan salah satu masalah yang sangat besar di Makassar,” ujar Benny.

Hasil BBM Bukan Tujuan Utama

Ia menambahkan, meski alat ini mampu menghasilkan solar, bensin, dan minyak tanah, fokus utama tetap pada penguraian sampah plastik.

“Terlepas dari alat ini bisa menghasilkan BBM berupa solar, bensin, dan minyak tanah, fokus kami saat ini hanya kepada bagaimana sampah plastik itu bisa terurai,” katanya.

Darwin Uji Langsung di Tompobalang

Darwin mengembangkan dan menguji alat tersebut langsung di Kelurahan Tompobalang, Kecamatan Bontoala.

“Lokasinya ini ada di Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar, Kecamatan Bontoala, Kelurahan Tompobalang,” ujar Darwin.

Harapan untuk Masyarakat dan Lingkungan

Darwin berharap inovasi sederhana ini memberi manfaat luas bagi masyarakat dan lingkungan.

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia,” ucapnya.

Apresiasi atas Konsistensi Inovator

Ahmad Yusran kembali mengapresiasi konsistensi Darwin dan timnya.

“Aksi kecil itu untuk mengubah hal yang besar dimulai dari aksi hal-hal kecil. Yang luar biasa dan mahal adalah eksekusi dan konsistensi seperti saudara kita Darwin,” pungkasnya. (Ar)