Lintaskabar.id, Teheran – Lautan manusia dan tangis menyelimuti kompleks salat terbuka Imam Khomeini Grand Mosalla, Teheran, Sabtu (4/7/2026), saat puluhan ribu warga Iran mengantar Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, ke peristirahatan terakhir.
Sejak pagi, warga yang mengenakan pakaian serba hitam memadati lokasi pemakaman. Mereka mengangkat foto Khamenei, memukul dada, menangis, dan mengibarkan bendera Iran sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada pemimpin yang tewas dalam serangan udara pembuka perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran pada Februari lalu.
Selain menjadi prosesi berkabung nasional, pemakaman tersebut juga menunjukkan besarnya dukungan publik terhadap Republik Islam Iran di tengah masa gencatan senjata.
Puluhan Ribu Pelayat Padati Lokasi Pemakaman
Sebelumnya, pemerintah Iran menyemayamkan jenazah Khamenei di dalam ruangan agar para pejabat tinggi negara dan tamu asing dapat memberikan penghormatan terakhir. Setelah itu, peti jenazah dipindahkan ke area terbuka dan ditempatkan di balik kaca sehingga masyarakat dapat memberikan penghormatan secara langsung.
Di samping peti Khamenei, pemerintah juga menyemayamkan jenazah putrinya, menantu laki-laki, menantu perempuan, serta cucunya yang masih berusia 14 bulan.
Sepanjang prosesi, ribuan pelayat terus berdatangan ke kompleks Imam Khomeini Grand Mosalla. Para perempuan mengenakan cadar hitam, sedangkan sebagian lainnya memakai pelindung wajah berwarna putih atau membawa payung untuk menghindari terik matahari.
Tangis dan Seruan Duka Menggema
Suasana haru semakin terasa ketika seorang pembawa acara mengajak massa larut dalam kesedihan.
“Mari kita menangis!”
Seruan tersebut langsung disambut isak tangis para pelayat. Tak lama kemudian, massa juga meneriakkan slogan “Matilah Amerika” yang menggema di seluruh kawasan kompleks salat.
Sejumlah pelayat bahkan menyerukan pembalasan atas kematian Khamenei.
“Semua orang yang datang ke sini ingin membalas darah pemimpin tertinggi mereka. Seperti yang dikatakan pemimpin kami, kami memiliki dendam darah terhadap Amerika Serikat. Hubungan kami dengan Amerika Serikat tidak akan pernah baik,” ujar Arash Rahimi, seorang pelayat berusia 40 tahun.
Trump Soroti Tangisan Warga Iran
Di tengah prosesi berkabung, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku terkejut melihat banyaknya warga Iran yang menangisi kematian Khamenei.
“Saya kira rakyat membenci Khamenei. Mungkin itu air mata palsu,” ujar Trump, seperti dikutip Axios.
Pernyataan tersebut langsung memicu respons keras dari Kedutaan Besar Iran di Armenia melalui media sosial X.
“Anda tidak memahami hal-hal seperti ini karena Anda tidak memiliki peradaban, sejarah, maupun kehormatan,” tulis kedutaan tersebut.
Dukungan Publik Masih Menjadi Perdebatan
Meski puluhan ribu warga memadati lokasi pemakaman, tingkat dukungan masyarakat terhadap pemerintah Iran masih menjadi perdebatan.
Sebelum perang pecah, ratusan ribu warga sempat menggelar demonstrasi antipemerintah. Namun, sejak konflik dengan AS dan Israel dimulai, aksi penentangan hampir tidak lagi terlihat.
Pemerintah Iran memperkirakan jutaan warga akan mengikuti rangkaian pemakaman Ayatollah Ali Khamenei yang berlanjut di Teheran, Qom, Irak, hingga Mashhad dalam beberapa hari ke depan. (**)






