Lintaskabar.id, Makassar — Pengamat ekonomi dari Universitas Bosowa, Dr. Lukman Setiawan, mengingatkan pemerintah agar mewaspadai potensi lonjakan harga pangan menjelang Idul Adha 2026 yang diperkirakan jatuh pada 27 Mei.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Lukman menilai tekanan harga akan mulai terasa sejak H-30 hingga H-7, seiring meningkatnya permintaan masyarakat terhadap hewan kurban dan bahan pangan pendukung. Ia memperkirakan permintaan daging sapi dan kambing bisa melonjak hingga 20–30 persen, sementara pasokan lokal kerap terbatas.

“Kalau tidak diantisipasi, kenaikan permintaan ini bisa langsung mendorong harga daging di pasar,” ujarnya. Senin (4/5)

Selain itu, ia menyoroti potensi kenaikan harga bumbu dapur seperti cabai dan bawang yang biasanya ikut terdorong oleh kebutuhan konsumsi saat Idul Adha. Faktor cuaca dan distribusi juga dinilai dapat memperparah kondisi tersebut.

Distribusi dan Psikologi Pasar Jadi Penentu

Lebih jauh, Lukman menegaskan bahwa persoalan tidak hanya terletak pada pasokan, tetapi juga distribusi dan psikologi pasar. Ia menilai peningkatan mobilitas masyarakat menjelang hari raya berpotensi menaikkan biaya logistik dan tarif angkutan.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa isu kelangkaan stok dapat memicu kepanikan di masyarakat. Jika hal ini terjadi, maka lonjakan harga bisa semakin sulit dikendalikan.

“Ekspektasi pasar sangat menentukan. Kalau masyarakat panik, harga bisa naik lebih cepat,” tegasnya.

Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Untuk itu, Lukman mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret. Ia meminta pemerintah menggelar operasi pasar hewan kurban serta mempercepat impor sapi dan daging beku agar pasokan tetap terjaga.

Ia juga menekankan pentingnya memperlancar distribusi, termasuk dengan memberikan subsidi ongkos angkut dari daerah sentra produksi ke wilayah konsumsi. Selain itu, ia mendorong pemberian insentif logistik guna menekan biaya transportasi pangan.

Tak kalah penting, ia meminta pemerintah memperkuat komunikasi publik agar tidak muncul spekulasi atau isu kelangkaan yang dapat memicu panic buying.

Deflasi April Jadi Momentum Persiapan

Di tengah potensi kenaikan harga tersebut, Lukman menilai deflasi 0,03 persen pada April 2026 justru memberi ruang bagi pemerintah untuk bersiap. Ia menyebut kondisi ini sebagai fase normal setelah lonjakan konsumsi Lebaran, bukan tanda pelemahan ekonomi.

Ia menegaskan bahwa inflasi tahunan masih berada dalam target Bank Indonesia, sehingga stabilitas ekonomi tetap terjaga.

Dengan demikian, Lukman menekankan bahwa fokus utama saat ini bukan pada deflasi, melainkan kesiapan menghadapi lonjakan permintaan menjelang Idul Adha.

“Kuncinya ada pada pasokan, distribusi, dan komunikasi. Kalau ini dijaga, harga bisa tetap terkendali,” pungkasnya. (Ag)