MAKASSAR —Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali mencatat sejarah penting dengan mengukuhkan tiga guru besar baru dari Fakultas Kedokteran.
Prosesi penuh khidmat ini berlangsung dalam Rapat Paripurna Senat Akademik yang diselenggarakan pada Jumat (20/12) di Ruang Senat Akademik Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar.
Acara ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Senat Akademik Unhas, memungkinkan lebih banyak pihak untuk menyaksikan momen bersejarah ini.
Upacara pengukuhan dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., beserta jajaran Majelis Wali Amanat, Senat Akademik, Dewan Profesor, serta keluarga besar Unhas.
Tiga Guru Besar Baru yang Menginspirasi
1. Prof. dr. Andi Dwi Bahagia Febriani, Ph.D., SpA(K) – Bidang Neonatologi.
2. Prof. Dr. dr. Siti Maisuri Tadjuddin Chalid, Sp.OG., SubSp.KFm – Bidang Fetomaternal.
3. Prof. dr. Sitti Wahyuni Muhadi, Ph.D., SpParK – Bidang Imunologi.
Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, dalam sambutannya menegaskan bahwa pengukuhan ini menjadi bukti dedikasi Unhas dalam menghadirkan akademisi unggul yang memberikan kontribusi strategis melalui tridarma perguruan tinggi.
“Karya dan inovasi para guru besar kita bukan hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan solusi nyata untuk tantangan masyarakat, terutama di bidang kesehatan,” ujar Prof. JJ.
Pidato Inspiratif Para Guru Besar
1. Prof. dr. Andi Dwi Bahagia Febriani menyampaikan gagasan revolusioner tentang “Penanganan Bayi Baru Lahir Berbasis Zero Stress di Neonatal Intensive Care Unit (NICU)”. Ia menekankan pentingnya menciptakan lingkungan bebas stres di NICU guna mengoptimalkan perkembangan otak bayi pada 1.000 hari pertama kehidupan.
“Tujuan merawat neonatus bukan sekadar menyelamatkan nyawa, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup mereka sebagai penerus bangsa,” ungkap Prof. Dwi.
2. Prof. Dr. dr. Siti Maisuri Tadjuddin Chalid berbicara tentang “Fetomaternal: Menjaga Dua Jiwa dalam Satu Perjalanan”. Ia menggarisbawahi pentingnya pandangan bahwa janin bukan hanya bagian dari ibu, tetapi juga pasien yang membutuhkan perhatian khusus.
“Setiap kehamilan adalah kisah keberanian dan harapan. Melindungi dua jiwa dalam satu perjalanan adalah menjaga masa depan bangsa,” tegas Prof. Maisuri.
3. Prof. dr. Sitti Wahyuni Muhadi menjelaskan “Pengaruh Cacing pada Sistem Imun: Tantangan dan Peluang”. Ia mengungkapkan potensi terapi cacing dalam mengatasi penyakit inflamasi dan autoimun, meskipun tantangan seperti risiko infeksi tetap harus diperhatikan.
“Terapi cacing membuka peluang baru dalam pengelolaan penyakit inflamasi, namun memerlukan penelitian lebih lanjut untuk penerapannya secara aman,” jelas Prof. Sitti.
Penulis: Anugrah







