JAKARTA— Tidak banyak yang tahu, di balik kesuksesan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, tersimpan kisah perjuangan panjang yang sarat pelajaran hidup.
Dalam acara “Kick Andy Special Guest Tikus Diracun Amran” edisi keempat, Amran menceritakan bagaimana dirinya berjuang dari nol hingga menjadi sosok yang dihormati karena integritasnya.
Bahkan, demi menjaga prinsip antikorupsi, Amran rela menutup bisnis yang berkaitan dengan kementerian yang dipimpinnya.
Di bawah bendera TIRAN Group, Amran mengembangkan bisnis pertanian, termasuk usaha pestisida.
Namun, sejak menjabat sebagai Menteri Pertanian pada 2014, ia mengambil keputusan tegas: menutup permanen bisnis pestisidanya. Baginya, menjaga kepercayaan publik lebih penting daripada keuntungan materi.
“Begitu saya ditunjuk jadi Menteri Pertanian, bisnis pestisida saya tutup permanen. Walaupun secara bisnis ini bisa merugikan, saya tidak ingin ada celah fitnah. Lebih baik saya rugi secara materi daripada integritas saya tercoreng,” tegas Amran.
Langkah berani tersebut tentu memunculkan risiko bagi karyawannya. Namun, Amran memastikan mereka tetap memiliki penghidupan layak.
“Saya hanya geser mereka ke bisnis lain, seperti tambang, gula, sawit, atau distribusi. Bagi saya, integritas itu nomor satu,” tambahnya.
Amran juga mengenang masa-masa sulit saat merintis usahanya. Bermodalkan Rp500 ribu hasil pinjaman bank, ia nekat merantau ke Jakarta menggunakan kapal laut. Namun, sesampainya di sana, ia hanya memiliki sisa uang Rp300 ribu, yang membuatnya harus mencari tempat tinggal gratis.
“Begitu tiba di Jakarta, saya dan teman harus tidur di Masjid Istiqlal selama dua hari dua malam. Tapi karena ada kejadian tak terduga, kami pindah ke masjid lain di Bintaro,” cerita Amran.
Perjuangan belum berakhir. Amran datang ke Jakarta dengan satu tekad: mendaftarkan hak paten untuk formula pestisida buatannya, Tikus Mati Diracun Amran (TIRA). Sayangnya, biaya pengurusan paten terlalu mahal, memaksanya pulang dan mencari pekerjaan tambahan.
“Saya pulang kampung dan jadi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Suatu hari, saya dengar ada seminar tentang hak paten di Makassar. Saya langsung ke sana, menunggu di depan pintu hanya untuk bertemu orang yang bertanggung jawab,” kenang Amran.
Dalam pertemuan tersebut, Amran mengutarakan tekadnya, “Pak, kalau hak paten ini tidak bisa saya urus karena biaya, saya serahkan saja kepada Bapak, asalkan bisa bermanfaat untuk rakyat kecil.” Tak disangka, sebulan kemudian hak patennya keluar, membuka jalan bagi usahanya yang semula ia jalankan secara gratis selama 13 tahun.
Seluruh perjalanan hidupnya membentuk prinsip Amran untuk selalu membantu sesama, khususnya para petani miskin.
“Saya tahu denyut nadi petani Indonesia, karena 36 tahun saya pernah merasakan hidup di posisi mereka. Bagi saya, kebahagiaan tertinggi adalah melihat orang lain tersenyum,” ucapnya penuh haru.
Bagi Amran, harta terbesar bukanlah materi, melainkan kebaikan yang ditanam.
“Tabungan saya bukan uang, tapi apa yang bisa saya lakukan untuk bangsa dan negara ini. Saya ingin hidup saya bermanfaat bagi orang lain,” tegasnya.**







