Lintaskabar.id, Makassar — Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis pagi. Rupiah turun 0,27 persen hingga menembus level Rp18.025 per dolar AS.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kondisi tersebut menempatkan rupiah di salah satu level terlemah dalam beberapa waktu terakhir sekaligus mendekatkannya pada ambang psikologis baru Rp18.000 per dolar AS.

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Bosowa, Lukman Setiawan, menilai tekanan global dan pelemahan daya beli dalam negeri ikut mendorong pelemahan rupiah, termasuk di sektor manufaktur.

Ia menekankan bahwa pemerintah dan Bank Indonesia perlu bergerak cepat dan terukur untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan tersebut.

Kemenkeu Diminta Prioritaskan Daya Beli

Lukman meminta Kementerian Keuangan memprioritaskan pemulihan daya beli sebelum mengejar target pajak secara agresif.

“Pasar menurun itu sinyal daya beli turun. Kalau PPN/PPH dikejar habis-habisan, UMKM dan manufaktur malah sekarat,” ujarnya. Kamis (4/6).

Selain itu, ia mendorong pemerintah memberikan insentif seperti PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk bahan baku industri serta mempercepat restitusi pajak agar pelaku usaha memiliki ruang likuiditas.

Kemudian, ia meminta pemerintah mengarahkan belanja negara ke sektor yang langsung berdampak ke masyarakat seperti infrastruktur, bantuan sosial, subsidi bunga KUR, dan program padat karya.

“Belanja yang langsung kerasa harus jalan, seperti infrastruktur, bansos tepat sasaran, dan subsidi bunga KUR. Program padat karya dan MBG juga harus lebih rapi supaya uang berputar di bawah,” kata Lukman.

Di sisi lain, ia juga menilai pemerintah perlu melindungi industri padat karya yang terdampak kenaikan biaya produksi akibat pelemahan rupiah.

“Kalau tidak dilindungi, pabrik bisa tutup, terjadi PHK, dan pasar makin anjlok,” tegasnya.

BI Diminta Jaga Stabilitas dan Komunikasi Pasar

Lukman juga meminta Bank Indonesia memperkuat komunikasi kebijakan agar pasar tidak panik.

Ia menilai kepercayaan pasar sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan arah intervensi yang jelas.

“Rupiah itu sebagian besar dipengaruhi psikologi pasar. Karena itu, komunikasi harus jelas dan konsisten,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan BI agar tidak terburu-buru mengikuti kenaikan suku bunga The Federal Reserve karena dapat menekan sektor riil.

“Kalau bunga tinggi terus, kredit jadi mahal dan ekspansi usaha melambat,” ujarnya.

Sebagai alternatif, ia menyarankan BI menjaga kebijakan yang lebih fleksibel agar kredit produktif tetap mengalir ke UMKM dan industri manufaktur.

Inflasi Pangan Jadi Kunci Stabilitas Ekonomi

Di sisi lain, Lukman menyoroti inflasi pangan dan energi sebagai faktor penting yang memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.

Ia menegaskan bahwa pengendalian harga pangan dapat membantu menekan inflasi sehingga tidak menambah tekanan pada nilai tukar rupiah.

“Kalau harga pangan stabil, BI tidak perlu menaikkan bunga terlalu tinggi,” jelasnya.

Stabilitas Ekonomi Butuh Kepastian Kebijakan

Terakhir, Lukman menekankan bahwa kondisi ekonomi saat ini membutuhkan kepastian kebijakan yang konsisten, cepat, dan terukur.

Ia menyebut pelaku usaha membutuhkan kepastian agar tidak menunda investasi dan ekspansi usaha.

“Ekonomi sekarang butuh kepastian: dolar berapa, bunga berapa, pajak berapa. Kalau tidak jelas, investasi akan tertunda,” tegasnya. (Ag)