Lintaskabar.id, Makassar — Prof. Dr. H. Munawir Kamaluddin, MA., MH. mendukung kebijakan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin yang melarang konvoi dan penggunaan petasan saat malam takbiran Idulfitri 2026.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Selain itu, Munawir yang merupakan pakar pendidikan karakter dan Direktur LAPSENUSA menilai kebijakan ini tidak melarang takbiran, tetapi mengarahkan pelaksanaannya agar sesuai esensi.

“Takbiran bukanlah sesuatu yang dilarang, melainkan justru merupakan syiar Islam yang harus dihidupkan dengan penuh kekhidmatan,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).

Nilai Spiritual dan Tanggung Jawab Sosial

Selanjutnya, Munawir menilai kebijakan ini menjaga keseimbangan antara nilai spiritual dan ketertiban sosial.

“Dalam perspektif pendidikan karakter, ini adalah integrasi antara ekspresi keagamaan dan tanggung jawab sosial,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia menegaskan masyarakat harus memaknai takbiran sebagai wujud syukur yang dijalankan dengan adab.

“Takbiran bukan sekadar ekspresi euforia, tetapi manifestasi rasa syukur yang harus dibingkai dengan adab, etika, dan kesadaran kolektif,” tegasnya.

Edukasi Bukan Pembatasan

Di sisi lain, Munawir menilai larangan konvoi dan petasan sebagai langkah edukatif, bukan pembatasan.

“Larangan terhadap konvoi berlebihan dan penggunaan petasan bukanlah pembatasan syiar, melainkan bentuk edukasi sosial agar umat tidak kehilangan esensi ibadah,” katanya.

Takbiran Lebih Khidmat di Lingkungan

Kemudian, ia mendorong masyarakat melaksanakan takbiran di masjid dan lingkungan masing-masing agar lebih khidmat dan tertib.

“Ketika takbir dikumandangkan di masjid, mushalla, dan lingkungan masing-masing, akan tercipta suasana yang lebih khidmat, harmonis, dan inklusif tanpa menimbulkan gangguan publik,” ujarnya.

Momentum Penguatan Karakter

Sementara itu, Munawir berharap masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai momentum memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial.

Dengan demikian, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab dalam kehidupan sosial.

“Kebebasan harus selalu diiringi dengan tanggung jawab. Inilah esensi kemenangan sejati, ketika nilai-nilai Ramadan terinternalisasi dalam perilaku sosial kita,” pungkasnya. (Ar)