Lintaskabar.id, Makassar — Amerika Serikat dan Israel menggempur Iran dan langsung memicu kecemasan pasar global, terutama pada sektor energi dan perdagangan internasional.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pengamat Ekonomi Universitas Bosowa (Unibos) Lukman Setiawan menilai konflik Iran–AS–Israel dapat menekan perekonomian Indonesia.

“Karena itu, bisa saja jadi potensi kenaikan biaya impor, pelemahan rupiah, hingga gangguan ekspor akibat konflik ini,” ujar Lukman, Minggu (1/3).

Pasar Minyak Memanas, Inflasi Mengintai

Lukman menjelaskan konflik di Timur Tengah berpeluang mengerek harga minyak dunia. Akibatnya, Indonesia menanggung biaya impor energi yang lebih besar.

“Kenaikan biaya impor itu pada akhirnya memicu inflasi karena biaya produksi dan distribusi ikut naik,”tegasnya.

Selain itu, ia memperkirakan harga minyak akan naik lebih tinggi jika konflik berlanjut, terlebih bila pihak-pihak terkait mengganggu jalur pasokan strategis.

Perdagangan Global Melambat, Ekspor Berisiko Turun

Lebih jauh akademisi Unibos itu menjelaskan ketidakpastian geopolitik menahan aktivitas perdagangan internasional. Dampaknya, pasar global menurunkan permintaan terhadap komoditas ekspor Indonesia. Jika kondisi ini bertahan, pertumbuhan ekonomi domestik ikut melambat.

Investor Pilih Aset Aman, Rupiah Bisa Melemah

Lukman menilai eskalasi konflik mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap aman (risk-off). Dengan begitu, investor menarik modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Konsekuensinya, rupiah melemah dan volatilitas pasar keuangan meningkat,” bebernya.

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis, Rantai Pasok Terancam

Lukman menyoroti potensi gangguan rantai pasok global, khususnya jika konflik memengaruhi Selat Hormuz—jalur utama perdagangan energi dunia. Karena jalur itu krusial, gangguan sekecil apa pun dapat mengacaukan pasokan energi dan ikut mendorong kenaikan harga minyak.

Pemerintah Perkuat Antisipasi, Diversifikasi Jadi Kunci

Lukman mendorong pemerintah memperketat pemantauan situasi, menjaga stabilitas fiskal, dan memperkuat koordinasi antarlembaga. Di sisi lain, ia menilai pemerintah perlu mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperluas pasar ekspor agar Indonesia mengurangi risiko ketika ketidakpastian global berkepanjangan. (Ar)