MAKASSAR — Di balik semarak dunia olahraga, tidak banyak yang mengetahui bagaimana organisasi dijalankan dengan berbagai keterbatasan. Di Sulawesi Selatan, Ketua KONI Sulsel, Yasir Machmud, menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukan soal kenyamanan, melainkan pengabdian.
Wakil Ketua KONI Sulsel, Chalik Suang mengungkapkan bahwa baru kali ini ia melihat seorang ketua yang benar-benar memberdayakan semua unsur organisasi, sekaligus menjalankan kepengurusan sesuai aturan.
“Pak Yasir bukan hanya bertanggung jawab, tapi juga rela berkorban demi organisasi. Padahal, dana yang diberikan Pemprov sangat minim,” ujar Chalik, Jumat kemarin.
Menurutnya, banyak yang keliru beranggapan bahwa anggaran KONI selalu besar. Padahal, perbandingan paling jelas terlihat dari periode sebelumnya, ketika dana hibah mencapai puluhan miliar rupiah dengan jumlah cabor sekitar 30-an.
“Sekarang cabor sudah lebih dari 60. Tahun ini saja kita ajukan Rp30 miliar, tapi yang disetujui hanya Rp1 miliar, dan sampai sekarang pun belum cair,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, KONI Sulsel harus bertahan dengan keterbatasan. Tidak ada gaji untuk pengurus, bahkan biaya operasional sederhana seperti listrik kantor kerap ditanggung langsung oleh Yasir Machmud.
Pengorbanan terbesar terlihat saat pelaksanaan Porprov di Bulukumba–Sinjai. Karena dana belum turun sementara jadwal tak bisa diundur, Yasir menggunakan dana pribadinya untuk menutup kebutuhan acara.
“Saya saksi hidup. Atas nama KONI, saya sampai berhutang ke beliau Rp3,5 miliar. Ada tanda terimanya di sekretaris KONI. Itu semua untuk menutup biaya Porprov, termasuk honor panitia,” kata Chalik dengan suara bergetar.
“Kalau ditunda, kerugian bukan hanya untuk daerah penyelenggara, tapi juga nama provinsi. Karena itu Pak Yasir rela menanggung dulu dengan dana pribadi,” tambahnya.
Meski dana terbatas, di bawah kepemimpinan Yasir berbagai kegiatan tetap berjalan, mulai dari pelatihan, penataran, hingga persiapan atlet menuju PON.
“Dari segi peringkat mungkin belum tinggi, tapi jika bicara efisiensi anggaran dan jumlah cabor yang diberangkatkan, capaian KONI Sulsel membanggakan. Apalagi PON kali ini di dua provinsi, Aceh dan Sumut, tentu logistik lebih berat,” terang Chalik.
Ia juga menyebutkan, selama empat tahun terakhir, tidak ada fasilitas khusus bagi pengurus KONI.
“Empat tahun ini pengurus tidak pernah dapat seragam resmi. Semua beli sendiri. Tapi organisasi tetap berjalan, karena yang terpenting bukan fasilitas, melainkan keberlangsungan KONI,” jelasnya.
“Saya pernah bilang, kalau kondisinya begini sebaiknya mundur saja. Tapi Pak Yasir selalu menegaskan, kita harus bertahan demi olahraga Sulsel. Itu yang membuat kami tetap kuat,” tuturnya.
Kisah pengorbanan Yasir Machmud memperlihatkan bahwa memimpin organisasi olahraga bukan soal popularitas, melainkan pengabdian yang sering menuntut pengorbanan pribadi.
Dengan anggaran yang minim, Yasir tetap memilih bertahan, bahkan menggunakan dana pribadi demi keberlangsungan organisasi.
“Insyaallah, apa yang beliau lakukan adalah bukti ketulusan untuk membesarkan KONI Sulsel. Semoga masyarakat bisa melihat bahwa roda organisasi ini tetap berjalan berkat pengorbanan ketuanya,” pungkas Chalik.
Penulis: Ardhi







