MAKASSAR — Universitas Muslim Indonesia (UMI) terus berkomitmen memperkuat peran akademik di kawasan ASEAN dengan meluncurkan berbagai inisiatif strategis, termasuk kolaborasi riset internasional, mobilitas dosen dan mahasiswa, serta partisipasi aktif dalam forum ilmiah berskala regional dan global.
Komitmen ini disampaikan oleh Wakil Rektor V UMI, Prof. Dr. Ir. H Muhammad Hattah Fattah MS, yang mewakili Rektor UMI, dalam Focus Group Discussion (FGD) dan Kuliah Tamu bertema “Kerja Sama Penelitian, Program Magang, dan KKN Internasional dalam Mendukung Kerja Sama ASEAN” yang digelar di Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar pada Selasa (22/7). Forum ini dihadiri oleh pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta se-Kota Makassar.
Di hadapan Sidharto R. Suryodipuro, Wakil Rektor V UMI mengungkapkan bahwa UMI aktif mengembangkan riset kolaboratif yang relevan dengan isu-isu kawasan, seperti Halal Issue, Islamic and Culture Studies, Industri Sawit, dan Sport Centre.
“UMI memprakarsai program riset lintas negara yang melibatkan peneliti dari ASEAN dan mendorong publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi internasional. Melalui pendekatan ini, UMI tidak hanya memperluas jejaring keilmuan, tetapi juga berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas riset serta solusi atas tantangan bersama di kawasan ASEAN,” jelasnya.
Salah satu riset unggulan UMI adalah kolaborasi dengan National University of Singapore yang mengangkat tema Maritime Heritage of Singapore and Sulawesi. Riset ini menggali naskah langka, Manuskrip Daeng Paduppa, sebagai warisan budaya maritim. Seminar internasional yang membahas riset ini bahkan dihadiri oleh Wapres RI (ke-10 hingga ke-12) HM Jusuf Kalla di National University Singapore.
Selain Singapura, UMI juga aktif menjalin kerja sama dengan institusi pendidikan tinggi di Malaysia, Thailand, dan negara ASEAN lainnya, yang meliputi penyelenggaraan KKN Internasional, program IISMA, serta forum IC Halal di Malaysia yang membahas solusi atas embargo sawit.
Prof. Hatta juga menjelaskan bahwa UMI secara konsisten mendorong dosen dan mahasiswa untuk berpartisipasi dalam berbagai forum ilmiah tingkat ASEAN. Melalui kemitraan strategis dengan perguruan tinggi di kawasan ini, UMI memperkuat perannya sebagai institusi yang mendukung integrasi akademik global. Ini juga mencerminkan visi UMI sebagai universitas yang memiliki daya saing internasional dan kualitas dunia.
“Dengan kemitraan strategis ini, UMI terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung integrasi akademik yang relevan dengan kebutuhan global serta perkembangan masyarakat regional,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof. Hattah mengungkapkan bahwa UMI juga turut serta dalam diplomasi pendidikan, salah satunya dengan memberikan beasiswa kepada mahasiswa Timor Leste sebagai bentuk dukungan terhadap proses integrasi negara tersebut ke dalam ASEAN.
“Pada Februari 2025 lalu, UMI menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta dari luar Pulau Jawa yang diundang oleh EMGS Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia untuk mengikuti ASEAN Universities Exhibition and Forum (AEF) 2025 di Sunway Resort, Selangor, Malaysia. Ini merupakan bukti bahwa kiprah UMI dalam jaringan akademik ASEAN semakin diakui,” kata Prof. Hattah.
Di akhir sambutannya, Prof. Hattah mengucapkan terima kasih atas undangan dari Kementerian Luar Negeri, yang menunjukkan bahwa UMI berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam membangun sinergi pendidikan tinggi di kawasan Asia Tenggara serta mempersiapkan generasi unggul yang siap bersaing di kancah global.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Sidharto R. Suryodipuro, menyoroti posisi strategis Makassar sebagai gerbang utama kawasan Indonesia Timur dalam pengembangan konektivitas dan kerja sama regional ASEAN.
“Sekitar dua pertiga wilayah maritim ASEAN berada di Indonesia, menjadikannya elemen penting dalam membangun konektivitas maritim regional. Meskipun selama ini fokus konektivitas lebih terpusat di bagian barat kawasan, dalam satu dekade terakhir, kawasan Indonesia Timur, termasuk Makassar, telah mengalami perkembangan pesat dalam pengembangan infrastruktur konektivitas,” ungkapnya.
Sidharto juga menambahkan bahwa tren ini diprediksi akan memberi dampak besar bagi pertumbuhan kawasan hingga 2028, sehingga memperkuat posisi Makassar sebagai pusat strategis dalam integrasi ASEAN, khususnya di sektor maritim dan pendidikan tinggi.
Penulis: Anugrah







