MAKASSAR — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, membuka cakrawala baru dalam Seminar Nasional Musyawarah Wilayah III Tarjih Muhammadiyah Sulawesi Selatan, yang mengangkat tema “AI dan Masa Depan Pendidikan Indonesia”.
Dalam sambutannya di Universitas Muhammadiyah Makassar pada Sabtu (2/8), Prof. Mu’ti menegaskan pentingnya peran teknologi digital, terutama Artificial Intelligence (AI), dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih responsif dan modern.
Menurut Prof. Mu’ti, manusia saat ini hidup di era digital yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi seperti 3D, animasi, dan kecerdasan buatan. Namun, ia juga mengingatkan besarnya tantangan untuk memilah informasi yang asli dan tiruan di tengah banjir data di ruang publik.
“AI merupakan perpaduan algoritma dan teknologi digital yang berkembang cepat seiring kemajuan pemahaman manusia terhadap cara kerja otak dan komputer,” kata Prof. Mu’ti, yang juga berbagi pengalamannya saat mempelajari psikologi kognitif di Australia tahun 1995.
Prof. Mu’ti menyoroti hubungan erat antara sistem kerja otak manusia dan komputer. Menurutnya, AI lahir dari upaya meniru cara otak bekerja dalam menerima, menyimpan, serta memanfaatkan informasi.
Pemahaman ini pula yang menjadi landasan bagi berkembangnya ilmu neurosains dan penerapannya dalam strategi pendidikan, misalnya melalui Quantum Learning dan Quantum Teaching yang muncul di awal 2000-an.
Selain membahas pendidikan, Prof. Mu’ti juga menekankan pentingnya peran ulama, mubalig, dan warganet Muhammadiyah dalam memenuhi ruang digital dengan konten positif dan edukatif.
“Kalau ruang digital tidak kita isi, maka akan diisi oleh pihak yang tidak berilmu dan justru menyesatkan,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa AI bukan sekadar alat bantu pendidikan, melainkan dapat menjadi media dakwah untuk menyebarkan nilai-nilai Islam versi Muhammadiyah secara lebih luas dan sistematis.
“AI harus dipahami sebagai hasil rekayasa teknologi yang dapat membantu manusia belajar lebih baik dan menyampaikan kebenaran secara lebih efektif. Saya berharap seluruh peserta dapat aktif berkontribusi di dunia digital dengan menjadikan AI sebagai sarana dakwah dan pendidikan yang mencerdaskan,” tutupnya.
Sementara itu, Wakil Rektor II Unismuh Makassar, Dr. Ihyani Malik, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi atas kunjungan Prof. Abdul Mu’ti. Ia menyebut kehadiran Menteri Pendidikan ini menjadi momen istimewa, tak hanya bagi civitas akademika Unismuh, namun juga bagi seluruh insan pendidikan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.
Dr. Ihyani menambahkan, selain menghadiri seminar dan bersilaturahmi, Menteri Pendidikan juga meresmikan dua fasilitas baru di Pesantren Muhammadiyah Makassar, yakni Markas Tahfiz untuk penghafal Al-Qur’an dan asrama. Ia berharap kedua fasilitas tersebut dapat semakin memperkuat pendidikan dan pembinaan santri di lingkungan Muhammadiyah.
“Beliau langsung kembali ke Jakarta setelah acara ini. Kunjungan ini bersejarah, karena meski sebelumnya pernah datang sebagai pimpinan pusat Muhammadiyah, baru kali ini hadir di Unismuh sebagai Menteri,” jelas Dr. Ihyani.
Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan pendidikan dasar dan menengah, khususnya sekolah-sekolah Muhammadiyah yang jumlahnya sangat banyak di seluruh Indonesia.
“Kami berharap beliau bisa lebih fokus dan peduli terhadap pendidikan dasar dan menengah. Sekolah-sekolah Muhammadiyah merupakan bagian penting dari pendidikan nasional. Kehadiran beliau memberikan harapan besar, bukan hanya untuk Muhammadiyah, tetapi juga untuk kemajuan pendidikan Indonesia,” pungkasnya.
Penulis: Anugrah







