OPINI—Hari raya idul fitri merupakan hari yang bersejarah bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia setelah sebulan melakukan ritual puasa dibulan ramadhan.
Bulan ramadhan disebut sebagai bulan yang mulia, bulan yang penuh keberkahan, maghfirah dan Rahmat. Umat Islam berbondong-bondong memulai aktifitas ibadah demi mendapatkan pahala serta kesempurnaan dalam meraih kemenangan yang Fitri.
Namun seiring waktu, perjalanan ibadah dan juga amalan mulai terkikis di penghujung ramadhan. Orang-orang mulai beralih kesibukan mengurus dunia, sibuk memikirkan pakaian yang serba baru, sibuk mempersiapkan kue lebaran, sibuk untuk mudik akhirnya melupakan keutamaan dan kemuliaan bulan ramadhan.
Padahal kemenangan yang fitri seharusnya dicapai dengan menyempurnakan ibadah selema bulan suci ramadhan. Karena Selain berpuasa, kepekaan serta kepedulian terhadap sesama merupakan substansi dari kesempurnaan ramadhan.
Idul Fitri bukan seperti turnamen sepak bola atau kompetisi lomba yang kemenangannya harus dirayakan dengan euforia dan penuh kebanggaan.
Kemenangan Idul Fitri adalah ketika kita berhasil meraih kematangan spiritual dan sosial setelah satu bulan penuh digembleng dan dididik di madrasah Ramadhan.
Secara spiritual, selama Ramadhan kita telah melakukan serangkaian ibadah. Mulai dari berpuasa, maupun ibadah-ibadah sunnah di dalamnya seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, beri’tikaf di masjid, bertahannus, dan sebagainya. Sudah seharusnya jika melalui bulan suci ini kita memaksimalkan dan melaksanakan beragam amalan kebaikan, agar dapat merasakan sentuhan dan pencapaian spiritual setelah ramadhan.
Namun jika melihat fenomena yang terjadi di tengah masyarakat di dalam menyambut idul Fitri, amalan yang dikerjakan selama ramadhan tidak akan bernilai ibadah bilamana urusan duniawi lebih diprioritaskan di penghujung ramadhan.
Seharusnya kemenangan yang diraih ini dirayakan dengan memperbarui komitmen dalam beribadah, memperteguh keimanan, merubah keburukan menjadi kebaikan dan Berbuat sesuatu yang bernilai pahala.
Idul Fitri seharusnya menjadi titik awal dari perubahan diri dimana dosa-dosa yang telah lalu tidak terulang kembali pasca ramadhan, oleh karena itu momentum ramadhan seharusnya dijadikan ladang pahala dengan memperbanyak amalan atau dalam istilah ekonomi dikenal dengan surplus.
Selain itu untuk menguatkan fondasi keimanan maka kefitrahan manusia yang diberi kesempurnaan dibanding mahluk lainnya adalah wujud daripada tingginya derajat manusia dihadapan Allah SWT.
Itulah sebabnya manusia dituntun untuk terus berpikir dan berbuat kebaikan agar dapat meminimalisir potensi keburukan yang ada dalam dirinya sebagaimana program efisiensi yang dicanangkan oleh pemerintah.
Efisiensi jika di dudukkan dalam perkara ibadah, maka efisiensi dapat meminimalisir potensi kekhilafan dalam diri manusia sehingga dapat termotivasi menjadi manusia (Pribadi) yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Selamat hari raya Idul Fitri 1446 H
Mohon maaf lahir dan batin
Oleh : Taqwa Bahar (Wakil Ketua Pemuda ICMI Sulsel).







