MAKASSAR — Masjid Agung Sultan Alauddin UIN Alauddin Makassar dipenuhi oleh ribuan jamaah saat Habib Husein Ja’far Al-Hadar hadir untuk ceramah dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Senin kemarin.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kehadiran penceramah muda ini menjadi pengalaman pertama bagi kampus dalam menyelenggarakan acara Maulid dengan menghadirkan beliau sebagai pembicara.

Dalam ceramahnya, Habib Husein mengingatkan pentingnya menjadikan agama sebagai pilihan sadar dan bukan sekadar warisan turun-temurun.

Ia mengungkapkan bahwa sejak kecil, ayahnya selalu mengajaknya berdiskusi dan melatih berpikir kritis, sehingga ia merasa agama adalah sesuatu yang perlu dipilih dengan kesadaran penuh.

“Islam harus dipilih, bukan hanya diterima begitu saja,” tegasnya.

Habib juga menekankan bahwa untuk bisa mencintai sesuatu, kita harus mengenalnya terlebih dahulu.

Ia mengilustrasikan masa kecilnya yang takut pada gudang yang dianggap berhantu, namun ternyata hanya berisi alat pertukangan.

Habib menyamakan hal ini dengan agama, di mana banyak orang merasa terbebani dalam beribadah karena mereka tidak memahami maknanya.

“Salat tanpa mengenal hakikatnya bisa terasa berat, tapi jika mengenalnya, salat justru membawa ketenangan dan cinta,” ujarnya.

Habib merangkum tiga pilar utama ajaran Nabi Muhammad SAW, yaitu iman, rahmatan lil alamin, dan akhlak. Ia menjelaskan bahwa iman sejati diuji saat seseorang berada sendirian, bukan saat berada di tengah keramaian.

“Kalau mau tahu dirimu, cek FYP TikTok-mu,” katanya, memberikan perbandingan dengan kehidupan anak muda.

Pada pilar rahmatan lil alamin, Habib menyampaikan bahwa kasih sayang Islam berlaku untuk seluruh makhluk, bahkan untuk nyamuk yang tidak memiliki e-toll ketika memasuki jalan tol. Ia juga mengingatkan tentang larangan memancing hanya untuk hobi (catch and release) karena dapat menyiksa binatang.

Sedangkan pada pilar akhlak, Habib menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan, mengingatkan sabda Nabi yang mengatakan bahwa meskipun kiamat hanya tinggal satu detik, kita tetap harus menanam bibit pohon.

Habib juga mengisahkan pesan ayahnya yang mewajibkan dirinya untuk kuliah filsafat karena keyakinannya bahwa “orang goblok itu ngerepotin.” Ia mengajak para jamaah untuk berpikir kritis agar keyakinan mereka tumbuh dari dasar yang kokoh dan rasional.

Dalam ceramahnya, Habib juga membahas isu kontemporer. Ia menegaskan bahwa Maulid bukanlah bid’ah, tetapi sebuah ekspresi kegembiraan atas rahmat Allah. Ia menggambarkan Maulid sebagai “logika gado-gado”, yang selama semua bahan halal, maka hasilnya pun tetap halal.

Terkait hubungan antara Islam dan negara, Habib menjelaskan bahwa Nabi tidak pernah menetapkan sistem pemerintahan yang kaku, melainkan menanamkan prinsip universal seperti kejujuran, amanah, kecerdasan, dan musyawarah sebagai pedoman moral dalam kehidupan berbangsa.

Di akhir ceramah, Habib menceritakan kisah seorang perempuan di Batam yang pertama kali berhijab setelah hadir di pengajiannya dan kemudian wafat dalam kecelakaan. Baginya, kisah ini menunjukkan bahwa menghadiri majelis ilmu dan bershalawat tidak akan pernah sia-sia, karena Allah dan Rasul-Nya akan membalas dengan kebaikan.

Acara ditutup dengan pesan penuh harapan yang menguatkan keyakinan jamaah, bahwa tidak ada usaha yang sia-sia bagi mereka yang mencintai Rasulullah.

“Percayalah, Nabi tidak akan pernah mengecewakan kita. Siapa yang bershalawat kepada Nabi, maka Nabi akan datang untuk membalas shalawat itu,” tutup Habib.

Penulis: Amriadi