MAKASSAR – Upaya penguatan kapasitas petani sawit di Sulawesi Selatan semakin terwujud melalui Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Angkatan I-IV yang berlangsung di Hotel Aryaduta Makassar pada Selasa (16/9).
Kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini merupakan kolaborasi antara Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan IPB Training.
Dalam sambutannya, Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Sulsel, Abdul Gafar, menggarisbawahi pentingnya peningkatan pengetahuan bagi petani sebagai langkah awal menuju peningkatan produktivitas yang berkelanjutan.
“Jika kita ingin meningkatkan produksi dan pendapatan, maka kita harus menguasai ilmunya terlebih dahulu. Pelatihan ini merupakan modal dasar untuk kesejahteraan petani sawit di Sulsel,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Ir. Hariyadi, perwakilan IPB Training, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan implementasi dari UU No. 18/2014 tentang Perkebunan yang mengamanatkan agar petani memiliki pemahaman tentang dasar ilmu dan teknologi dalam pengelolaan sawit.
“Pelatihan mencakup berbagai aspek, mulai dari pemilihan lahan dan benih unggul, pemeliharaan, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman. Fokusnya adalah pada produktivitas sekaligus keberlanjutan,” jelasnya.
Hariyadi juga menekankan pentingnya penerapan Good Agricultural Practices (GAP), antara lain penggunaan alat pelindung diri (APD), pengelolaan limbah plastik, serta larangan mencuci peralatan penyemprotan di sungai.
Dr. M. Apuk Ismane, Ketua Bidang Kelembagaan dan Ketenaga BPPSDMP, menambahkan bahwa pelatihan ini sejalan dengan Nawacita II yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan.
“Kementerian Pertanian menyiapkan berbagai solusi seperti benih unggul, pemupukan, pencetakan sawah seluas 3.000 hektare, serta melibatkan petani Gen Z. Semua ini untuk pertanian yang semakin modern,” jelasnya.
Ir. Baginda Siagian, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, mengungkapkan bahwa kelapa sawit memiliki peran penting dalam menyerap 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung.
“Kita membutuhkan 13 juta ton CPO untuk energi, termasuk biodiesel B40 yang akan meningkat menjadi B50. Meskipun produktivitas kita saat ini berada di angka 3,3–3,5 ton per hektare per tahun, masih ada ruang untuk peningkatan,” katanya.
Baginda juga menekankan pentingnya sertifikasi ISPO agar ekspor ke Eropa tidak terhambat. “Pembangunan kelapa sawit berkelanjutan adalah tantangan kita semua dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tambahnya.
Pelatihan ini diikuti oleh 110 petani dari berbagai daerah di Sulsel, termasuk Kabupaten Wajo. Para peserta akan memperoleh pelatihan teknis dari 16 hingga 20 September 2025.
Baharuddin, seorang petani sawit dari Desa Sogi, Wajo, mengaku mendapat banyak manfaat dari pelatihan ini. “Ilmu yang saya peroleh sangat bermanfaat. Dengan teknik yang diajarkan, saya dapat meningkatkan frekuensi panen menjadi dua kali dalam sebulan,” ungkapnya.
Pemerintah berharap agar peserta dapat menyebarkan pengetahuan yang didapat kepada petani lainnya, sehingga praktik budidaya sawit berkelanjutan semakin meluas dan daya saing ekspor Indonesia semakin meningkat.
Penulis: Ardhi







