MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar kembali menggelar kegiatan Jumat Bersih pada Jumat (15/8). Kali ini, kegiatan berlangsung di Kanal Sinrijala, Kelurahan Baraya Timur, Kecamatan Makassar.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Satgas Kecamatan.
Kanal yang berada di dekat jalan tembus Poros Pettarani tersebut terlihat kotor, berbau tidak sedap, dan penuh sampah.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang memimpin langsung kegiatan ini, membuka arahannya dengan mengangkat semangat kemerdekaan dari perspektif yang berbeda.
“Merdeka itu berarti merdeka dari sampah. Menjelang 17 Agustus ini, mari kita maknai kemerdekaan dengan membebaskan lingkungan kita dari kotoran dan saluran yang tersumbat,” tegasnya.
Munafri menekankan bahwa kebersihan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, Satgas Kebersihan, Dinas PU, atau Dinas Lingkungan Hidup (DLH), tetapi merupakan kewajiban seluruh masyarakat.
Ia juga menginstruksikan agar setiap laporan terkait saluran yang tersumbat segera ditindaklanjuti, bahkan melibatkan alat berat jika diperlukan.
“Jangan hanya angkat sampah di permukaan, pastikan salurannya lancar. Minggu depan saya minta Pak Camat dan Pak Lurah pastikan alat berat turun,” ujarnya.
Politisi Golkar ini menambahkan bahwa ke depannya, setiap petugas kebersihan akan memiliki tanggung jawab untuk menjaga titik biopori di wilayahnya.
Biopori, yang berfungsi untuk mengolah sampah daun menjadi pupuk sekaligus mencegah banjir, akan menjadi fokus bersama. Munafri mengajak masyarakat untuk bekerja lebih keras dalam menjaga kebersihan kota.
“Hari ini kita bersihkan kanal, tapi ke depannya, lingkungan harus tetap bersih. Ini adalah proses menuju Makassar yang sehat, rapi, dan peduli lingkungan,” jelasnya.
Selain itu, Munafri mengajak warga untuk melihat sampah sebagai peluang ekonomi. Ia menyebutkan harga sampah plastik yang bisa mencapai Rp4.500 hingga Rp11.000 per kilogram setelah diolah.
“Dalam 2-3 tahun ke depan, sampah tidak lagi menjadi masalah, tapi sumber manfaat. Setiap RT/RW harus punya sistem pengelolaan sampah organik, dengan adanya komposter, biopori, maggot, dan ekoenzim untuk mengurangi bau,” tambahnya.
Wali Kota juga menyoroti konsep urban farming sebagai solusi untuk memanfaatkan sampah organik. Ia memberikan contoh ternak ayam dan budidaya maggot yang dapat mengurangi volume sampah sekaligus memberi keuntungan bagi warga.
“Dengan memelihara maggot, satu kilogram maggot bisa mengolah lima kilogram sampah. Selain mengurangi sampah, hasilnya bisa menjadi sumber pendapatan,” ujarnya.
Penulis: Ardhi







