Lintaskabar.id, Makassar – Pemerintah Kota Makassar terus memperkuat komitmennya mencari solusi permanen bagi warga terdampak banjir di wilayah timur kota. Untuk itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin turun langsung meninjau kawasan rawan genangan di Kompleks Kelurahan Katimbang, Perumahan Kodam III, Kecamatan Biringkanaya, Sabtu sore (10/1/2026).
Wali Kota Munafri Arifuddin datang bersama Sekretaris Daerah Kota Makassar Andi Zulkifly Nanda, Kepala Pelaksana BPBD Makassar M. Fadli Tahar, Camat Biringkanaya Juliaman, serta lurah setempat. Mereka menyusuri titik-titik genangan sambil menyerap keluhan dan aspirasi warga.
Pemkot Cari Solusi Permanen Banjir Tahunan
Di lokasi peninjauan, Munafri Arifuddin menegaskan bahwa Pemerintah Kota Makassar melakukan langkah ini untuk menemukan solusi jangka panjang terhadap banjir yang rutin terjadi setiap musim hujan.
Ia menyampaikan bahwa kehadiran pemerintah bertujuan memberi rasa aman sekaligus memastikan penanganan banjir berjalan secara serius dan terukur.
“Saya datang ke sini untuk melihat langsung kondisi terkini. Tujuannya adalah mencari solusi bagi masyarakat,” ujarnya.
“Apalagi wilayah ini setiap tahun menjadi langganan banjir, sehingga memang perlu penanganan yang serius dan menyeluruh,” tambah Munafri.
Genangan Lumpuhkan Aktivitas Warga
Hasil peninjauan lapangan ini menjadi dasar awal bagi Pemkot Makassar untuk menyusun langkah strategis dan solusi konkret agar banjir dapat tertangani secara berkelanjutan.
Wilayah timur Kota Makassar dikenal sebagai kawasan rawan banjir. Setiap musim hujan, warga Perumahan Kodam III hingga Jalan Paccerakkang kembali menghadapi luapan air yang menutup jalan dan melumpuhkan aktivitas masyarakat sementara waktu.
Munafri yang akrab disapa Appi melihat langsung genangan air yang menutup badan jalan dan menghambat arus lalu lintas. Bahkan, sejumlah pengendara roda dua mengalami mogok dan harus mendorong kendaraannya melewati genangan.
Luapan Sungai Biring Je’ne Jadi Pemicu
Appi menjelaskan bahwa hasil pengamatan lapangan dan keterangan warga menunjukkan banjir terjadi akibat luapan air kiriman dari Sungai Biring Je’ne yang dipicu tingginya intensitas hujan.
Kondisi tersebut semakin parah karena alur aliran air tidak berfungsi optimal sehingga genangan sulit mengalir.
“Kalau kita melihat dan mendengarkan keterangan di lapangan, ini akibat air kiriman dari Sungai Biring Je’ne yang meluap,” jelasnya.
Pemkot Petakan Titik Sumbatan Aliran Air
Munafri menegaskan bahwa seluruh SKPD terkait harus memberi perhatian serius terhadap persoalan alur air. Pemerintah Kota Makassar akan memastikan jalur air berfungsi dengan baik dengan mengidentifikasi titik-titik sumbatan.
Pemerintah Kota Makassar juga akan melakukan identifikasi menyeluruh terhadap jalur aliran air, mulai dari hulu hingga ke titik pembuangan akhir.
Langkah ini bertujuan memastikan lokasi penyempitan, sumbatan, dan perubahan fungsi lahan yang berdampak pada sistem resapan air.
“Ada beberapa titik yang harus kita lihat jalurnya. Mulai dari ujung aliran, proses pembuangannya ke mana, lalu di mana yang tersumbat. Biasanya terjadi penyempitan atau ada wilayah resapan yang berubah menjadi kawasan pembangunan. Ini semua akan kita pastikan tertangani dengan baik,” paparnya.
Opsi Penataan Saluran dan Koordinasi Lintas Daerah
Munafri menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Makassar akan mengkaji pembukaan atau penataan alur saluran air baru agar air tidak lagi terjebak di kawasan permukiman.
Ia menegaskan bahwa Sungai Biring Je’ne berada di wilayah perbatasan Kota Makassar dan Kabupaten Maros, sehingga penanganannya membutuhkan koordinasi lintas wilayah dan lintas sektor.
“Mudah-mudahan dari hasil peninjauan ini kita bisa carikan jalan keluar dari persoalan banjir yang setiap tahun terjadi di tempat ini,” ujarnya.
Pemkot Siapkan Solusi Jangka Pendek dan Panjang
Munafri menekankan bahwa Sungai Biring Je’ne memiliki fungsi strategis sekaligus menyimpan potensi risiko bencana jika pemerintah tidak mengelolanya secara tepat.
Ia menegaskan pentingnya kesiapsiagaan seluruh perangkat daerah dan penguatan koordinasi dengan pemerintah terkait untuk menghadirkan solusi jangka pendek maupun jangka panjang.
“Harapan kita, persoalan ini bisa tertangani dan bisa teratasi. Karena kalau tidak, akan berdampak bagi masyarakat di sini,” tukasnya.
BPBD Perkuat Mitigasi dengan EWS dan TRC
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar terus memperkuat mitigasi banjir di kawasan rawan. BPBD memasang Early Warning System (EWS) di sepanjang Sungai Biring Je’ne sebagai sistem peringatan dini terhadap potensi banjir akibat peningkatan debit air.
EWS memantau ketinggian dan debit air sungai secara real time sehingga petugas dan masyarakat dapat menerima peringatan lebih awal sebelum banjir meluas ke permukiman.
Kepala BPBD Kota Makassar Fadli Tahar menjelaskan bahwa pemasangan EWS menjadi bagian dari strategi pengurangan risiko bencana, khususnya di wilayah yang kerap dilanda banjir.
“EWS ini menjadi alat penting untuk membaca kondisi sungai lebih cepat, sehingga petugas dan masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk bersiap,” ujarnya.
BPBD juga menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC) selama 24 jam untuk memantau lapangan, melakukan asesmen dampak, serta membantu warga jika debit sungai meningkat secara signifikan.
“Kami menyiagakan personel TRC selama 24 jam, khususnya di titik-titik rawan. Begitu ada indikasi kenaikan debit air yang berpotensi membahayakan, tim langsung bergerak,” jelasnya.
BPBD Kota Makassar mengimbau warga yang bermukim di sekitar bantaran Sungai Biring Je’ne agar tetap waspada, mengikuti informasi resmi pemerintah, serta segera melapor jika terjadi kondisi darurat di lingkungan masing-masing. (Ar)







