Lintaskabar.id, El-Fasher – Upaya diplomasi internasional untuk menghentikan perang saudara di Sudan kembali menemui jalan buntu.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Panglima Militer Sudan, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan menolak usulan gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat (AS) dan sejumlah mediator internasional.

Penolakan tersebut disampaikan setelah Dewan Pertahanan Militer Sudan menggelar pertemuan darurat pada Kamis (6/11), membahas situasi keamanan yang semakin memburuk di berbagai wilayah negara itu.

Dalam pernyataannya, dewan menyampaikan apresiasi atas inisiatif AS untuk mendorong perdamaian, namun menegaskan bahwa fokus utama militer saat ini adalah mengakhiri pemberontakan yang dilakukan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).

“Dewan memutuskan untuk menggalang dukungan rakyat Sudan di belakang angkatan bersenjata guna melenyapkan milisi pemberontak sebagai bagian dari mobilisasi umum dan upaya negara untuk mengakhiri pemberontakan ini,” bunyi pernyataan resmi dewan tersebut.

Jenderal Burhan, yang juga menjabat sebagai kepala pemerintahan de facto Sudan, menyatakan tekadnya untuk membalas serangan RSF yang telah menguasai sebagian besar wilayah barat Sudan dan diduga melakukan pembantaian terhadap warga sipil.

“Kami akan membalas dendam atas setiap martir yang gugur dalam Pertempuran Martabat, serta atas mereka yang terbunuh dan dimutilasi di El-Fasher, El-Geneina, Al-Jazira, dan wilayah lain yang dinodai oleh milisi teroris,” kata Burhan, dikutip dari The New Arab, Jumat (7/11/2025).

Keputusan Burhan ini menegaskan sikap keras militer Sudan di tengah tekanan internasional untuk menghentikan kekerasan yang telah berlangsung sejak 2023.

Konflik antara angkatan bersenjata Sudan (SAF) dan RSF telah menimbulkan ribuan korban jiwa serta memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah barat dan tengah negara tersebut.

Sementara itu, komunitas internasional terus menyerukan gencatan senjata segera guna membuka jalur kemanusiaan dan menghentikan eskalasi serangan terhadap warga sipil. Namun, hingga kini, peluang perdamaian masih jauh dari harapan. (Zi)