MAKASSAR — Penyaluran kredit bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami perlambatan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tercatat, pertumbuhan kredit UMKM hanya mencapai 1,23 persen secara year-on-year (yoy). Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai implikasi ekonomi, baik di tingkat regional maupun nasional.

Pengamat Ekonomi Universitas Bosowa, Lukman Setiawan menjelaskan, salah satu penyebab utama perlambatan ini adalah kebijakan perbankan yang kini semakin selektif dalam menyalurkan kredit. Hal ini dipicu oleh meningkatnya risiko kredit macet di tengah ketidakpastian ekonomi.

Selain itu, penurunan permintaan kredit dari sektor UMKM juga menjadi faktor yang turut memengaruhi. Hal ini bisa disebabkan oleh terbatasnya proyek atau investasi yang dinilai layak, atau karena UMKM lebih memilih sumber pendanaan alternatif yang dinilai lebih menguntungkan dan fleksibel dibanding kredit perbankan.

Di sisi lain, banyak UMKM masih kesulitan memenuhi persyaratan perbankan, seperti penyusunan laporan keuangan yang memadai atau ketersediaan agunan.

“Kondisi ini memerlukan intervensi dari pemerintah berupa kebijakan keringanan syarat pengajuan pinjaman, terutama bagi pelaku UMKM di Sulawesi Selatan. Dukungan tersebut bisa berupa fasilitas dana pinjaman dengan persyaratan yang tidak memberatkan,” bebernya, Senin (7/7).

Lebih jauh dirinya mengungkapkan  perlambatan penyaluran kredit UMKM dinilai dapat berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah, mengingat UMKM merupakan salah satu penggerak utama ekonomi lokal, khususnya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

“Tanpa akses terhadap pembiayaan, UMKM akan menghadapi kesulitan dalam melakukan ekspansi usaha dan menciptakan lapangan kerja baru. Hal ini berisiko meningkatkan tingkat pengangguran, meskipun dampaknya saat ini belum signifikan,” ucapnya.

Selain itu, keterbatasan akses terhadap kredit juga bisa menghambat inovasi serta penurunan produktivitas pelaku UMKM, yang pada akhirnya akan memengaruhi daya saing mereka di pasar.

“Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan solusi yang dapat mendorong pertumbuhan UMKM di Sulsel. Seperti pengembangan kapasitas UMKM, khususnya dalam pengelolaan keuangan dan pemenuhan persyaratan administrasi kredit,” katanya.

Tidak hanya itu, Inovasi produk perbankan yang lebih ramah UMKM, seperti pinjaman berbunga rendah dengan proses yang lebih sederhana.

“Kolaborasi antara pemerintah, perbankan, dan lembaga keuangan untuk memperluas akses pembiayaan bagi UMKM serta memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” tutupnya.

Penulis: Anugrah