Lintaskabar.id, NTT – Seorang siswa laki-laki kelas IV SD berusia 10 tahun di Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal pada Kamis (29/1) siang. Warga menemukan korban tergantung di pohon cengkeh dekat pondok sederhana tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Diduga Dipicu Kekecewaan soal Buku dan Pena

Korban diduga mengakhiri hidupnya karena kecewa setelah ibunya tidak mampu membelikan buku dan pena seharga Rp 10.000. Sebelum kejadian, korban menulis sepucuk surat untuk ibunya, MGT (47), dalam Bahasa Jawa.

Polisi Pastikan Surat Diduga Ditulis Korban

Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus E Pissort, membenarkan keberadaan surat tersebut. Penyidik mencocokkan tulisan dalam surat dengan tulisan korban di beberapa buku tulis dan menemukan kecocokan. “Ini berdasarkan hasil pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulis. Penyidik menemukan adanya kecocokan,” ujar Benediktus, belum lama ini seperti dilansir dari Kumparan.com

Saksi Melihat Korban Tergantung dan Meminta Pertolongan

Polisi memeriksa sejumlah saksi, antara lain Kornelis Dopo (59), Gregorius Kodo (35), dan Rofina Bera (34), warga Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu.

Kornelis menceritakan bahwa sekitar pukul 11.00 Wita ia hendak pergi mengikat kerbau di sekitar pondok nenek korban. Dari kejauhan, ia melihat korban sudah tergantung. Ia langsung berlari ke arah jalan sambil berteriak meminta tolong hingga warga berdatangan dan menghubungi polisi.

Warga Sempat Bertemu Korban Pagi Hari

Sebelumnya, sekitar pukul 08.00 Wita, Gregorius dan Rofina melihat korban duduk di bale-bale di luar pondok. Mereka berbincang dan menanyakan keberadaan nenek korban serta alasan korban tidak pergi ke sekolah. “Saat ditanya, korban hanya menunduk dan sedih,” ungkapnya.

Ibu Korban Mengantar Pulang dan Memberi Nasihat Terakhir

MGT (47) menuturkan bahwa korban sempat menginap di rumah bersamanya pada malam sebelumnya. Keesokan paginya, sekitar pukul 06.00 Wita, ia menitipkan korban kepada tukang ojek untuk menuju pondok neneknya. Sebelum korban berangkat, ia menasihati agar korban rajin bersekolah dan menjelaskan bahwa kondisi ekonomi keluarga terbatas sehingga sulit memperoleh uang.

Latar Keluarga dan Permintaan Terakhir

Gregorius Kodo menilai keluarga korban menghadapi banyak tantangan sehingga korban memilih tinggal bersama neneknya. Saat kejadian berlangsung, nenek korban berada di rumah tetangga.

Ia juga menyampaikan bahwa korban kurang mendapatkan kasih sayang orang tua. Ayah korban meninggal dunia saat korban masih dalam kandungan. Sementara itu, ibu korban menafkahi lima anak, termasuk korban.

Sebelum kejadian, korban meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Namun, ibunya tidak memenuhi permintaan itu karena tidak memiliki uang.

Isi Surat Korban (Bahasa Bajawa)

Berikut isi surat YBR kepada ibunya (kutipan dipertahankan):

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama). (Zi)